Wujudkan Pembelajaran Berpusat Pada Murid Melalui Pemanfaatan Laboratorium Maya

Sebagai seorang guru sebenarnya harus menyadari bahwa setiap anak adalah unik dan memiliki karakteristik yang berbeda, serta tumbuh dan berkembang di lingkungan yang berbeda-beda pula. Namun dalam pembelajaran, kerap kali kita berupaya untuk menyeragamkan mereka. Kita memberikan perlakuan yang sama dan menuntut hal yang sama pada setiap murid yang kita ajar. Tuntutan yang tidak bisa dipenuhi oleh murid biasanya membuat kita jengkel dan memberi label pada mereka sebagai anak yang malas, bandel, nakal, dan sejenisnya.

Sebagai seorang guru, sangat sering kita mendominasi proses pembelajaran. Serta menganggap bahwa jika murid diberikan ceramah, maka mereka akan memahaminya. Kita juga memiliki anggapan bahwa jika murid duduk dengan tenang, penuh disiplin mendengarkan ceramah guru, kemudian diakhiri dengan mendapat skor ulangan yang tinggi adalah sebuah keberhasilan. Tidak terpikirkan bahwa dalam proses membangun pengetahuan, ada nilai yang mesti ditanamkan, ada karakter yang perlu diperkuat. Asalkan skor ulangan yang diperoleh tinggi, seringkali guru sudah merasa puas.

Filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara, mengajarkan bahwa tugas guru bukanlah menuntut melainkan menuntun. Menuntun murid sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman, guna mengembangkan potensi yang dimiliki secara optimal. Belajar hendaknya membebaskan bukan paksaan untuk memenuhi tuntutan. Jika murid belajar, maka dialah yang bertanggung jawab untuk membangun pengetahuan pada dirinya. Guru hanyalah sebagai fasilitator, memfasilitasi murid agar dapat belajar sesuai karakteristiknya masing-masing. Guru hendaknya memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada murid dalam berkolaborasi membangun pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran harus benar-benar berpusat pada murid.

Pandemi Covid-19 memaksa pembelajaran jarak jauh diberlakukan. Hal ini dilakukan agar sekolah tidak menjadi tempat penularan dari Covid-19. Banyak kendala dan tantangan tentunya yang dihadapi oleh guru maupun siswa dalam pembelajaran jarak jauh (online). Kondisi yang berangsur-angsur membaik, membuat pemerintah mulai mengijinkan sekolah untuk mengadakan pertemuan tatap muka terbatas (PTMT). Namun kondisi yang terbatas, terutama dari segi waktu, menuntut guru harus menentukan strategi pembelajaran yang tepat, sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai. Apalagi dalam mata pelajaran fisika terdapat materi-materi pada kompetensi dasar keterampilan yang menuntut pembelajaran praktikum.

Di kelas XI pada semester 1, terdapat materi tentang elastisitas bahan, yang menuntut siswa untuk dapat melakukan percobaan. Terbatasnya waktu dalam PTMT membuat percobaan di laboratorium riil menjadi terkendala. Menyadari kondisi seperti yang dipaparkan di atas dan hasil refleksi terhadap pemikiran Ki Hajar Dewantara, rencana aksi nyata yang akan dilakukan adalah “wujudkan pembelajaran berpusat pada murid melalui pemanfaatan laboratorium maya”. Adapun hal-hal/Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut.

  1. Menerapkan model pembelajaran SOLE (Self Organized Learning Environment) dengan memanfaatkan laboratorium maya. Langkah-Langkah SOLE meliputi (1)  pemberikan pertanyaan terkait materi, (2) mengorganisasikan siswa, (3) eksplorasi dan investigasi Siswa, (4) monitoring dari guru, (5) presentasi hasil eksplorasi dan investigasi, dan (6) evaluasi hasil presentasi. Model pembelajaran SOLE dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil. Hal ini mendorong proses pembelajaran yang berpusat pada siswa dan tentunya mengurangi pemberian ceramah pada murid. Dalam kelompok-kelompok kecil ini dilakukan kegiatan praktikum secara virtual dengan menggunakan laboratorium maya yang diakses melalui gadget masing-masing
  2. Memunculkan pembelajaran berdiferensiasi dengan menjadi fasilitator pembelajaran. Dalam penerapan model pembelajaran SOLE murid diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi materi, baik dari buku maupun internet. Murid bisa menggali informasi/pengetahuan dari berbagai bentuk sumber belajar, baik video, foto, teks, maupun lingkungan alam sekitar, serta melakukan praktikum virtual dengan laboratorium maya. Guru berperan sebagai fasilitator, memberikan bimbingan kepada kelompok-kelompok yang mengalami kendala dan hambatan dalam pembelajaran. Dalam hal ini guru berupaya memunculkan diferensiasi konten, proses, maupun produk dalam pembelajarn yang dilakukan.
  3. Menunjukkan bahwa belajar bisa darimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Pemanfaatan laboratorium maya dalam kegiatan percobaan hukum hooke, ingin menunjukkan kepada murid bahwa belajar bisa darimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Dalam proses pembelajaran ditekankan bahwa begitu banyak sumber belajar yang bisa dieksplorasi secara mandiri oleh murid, khususnya dari internet. Keterbatasan ruang dan waktu bisa diatasi dengan pemanfaatan laboratorium maya ini.
  4. Mewujudkan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan dengan berkolaborasi. Pembelajaran dengan model SOLE serta memanfaatkan laboratorium maya merupakan upaya untuk mewujudkan pembelajaran yang bervariasi, menarik, dan bisa menyenangkan murid. Melalui kegiatan pembelajaran ini, murid dituntut untuk aktif membangun pengetahuannya sendiri memanfaatkan berbagai sumber belajar yang ada. Murid juga dilatih untuk berkolaborasi dalam kelompok-kelompok kecil, berbagi, dan saling membantu untuk membangun pengetahuan yang dituju.
  5. Menyisipkan pendidikan budi pekerti melalui konsep Tri Hita Karana sebagai kearifan budaya lokal yang sangat sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Tri Hita Karana adalah konsep yang mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga hubungan harmonis dengan sang pencipta Tuhan Yang Maha Esa (Parahyangan), sesama manusia, dan lingkungan alam sekitar, dengan tujuan untuk mencapai kebahagiaan lahir bathin. Implementasi Tri Hita Karana terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran dan kegiatan sekolah lainnya. Seperti konsep Parahyangan dilakukan melalui persembahyangan puja Trisandya sebelum memulai pembelajaran dan sebelum pulang sekolah, kegiatan berdoa selalu dilakukan setiap memulai pelajaran dan mengakhirinya, demikian pula kegiatan persembahyangan pada hari-hari besar keagamaan yang dilaksanakan di sekolah. Menjaga kebersihan lingkungan merupakan contoh penerapan dari konsep palemahan. Untuk konsep pawongan, yaitu menjaga hubungan harmonis dengan sesama manusia contohnya adalah ketika belajar berkelompok murid bisa saling menghargai pendapat satu dengan lainnya. Demikian pula dimasa pandemi covid 19 ini, selalu memakai masker dan menjaga jarak, untuk saling melindungi antar sesama teman
  6. Menguatkan profil pelajar Pancasila. Dalam menerapkan model pembelajaran SOLE melalui pemanfaatan laboratorium maya, setiap langkah pembelajarannya sudah berupaya menumbuhkan profil pelajar Pancasila. Kegiatan pembelajaran selalu diawali dan diakhiri dengan salam dan berdoa, untuk mewujudkan pelajar yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Pemanfaatan laboratorium maya dalam melakukan percobaan hukum hooke, mendorong murid untuk kreatif dan bernalar kritis. Murid juga diajak untuk mampu membangun pengetahuannya secara mandiri, mengeksplorasi pengetahuan dari berbagai sumber, sehingga nilai pelajar mandiri bisa terwujud nantinya. Metode pembelajaran secara berkelompok, dimana anggota kelompok heterogen, merupakan upaya mewujudkan profil pelajar Pancasila yang bergotong royong dan berkebhinekaan global. Dengan demikian secara inplisit maupun ekplisit profil pelajar Pancasila sudah berupaya ditumbuhkan dan akan dilakukan berkelanjutan.

Filosofi pembelajaran Ki Hajar Dewantara mengungkapkan bahwa pembelajaran hendaknya berpusat pada murid, dimana guru menjadi fasilitator belajarnya. Dalam kegiatan pembelajaran juga tidak lupa harus dibangun budi pekerti yang luhur dari murid. Pemanfaatan laboratorium maya telah mampu mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid. Dimana untuk mendukungnya diterapkan model pembelajaran SOLE dan diintegrasikan nilai kearifan Tri Hita Karana serta penguatan profil pelajar Pancasila.

Rencana tindak lanjut yang dilakukan adalah terus merancang dan melaksanakan pembelajaran yang menerapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Dimana peran guru adalah sebagai penuntun kodrat alam murid sesuai dengan perkembangan kodrat zaman yang ada. Hal yang konkret yang akan terus dikembangkan ke depan adalah melaksanakan pembelajaran dengan model dan metode yang bervariasi, tetap memperhatikan keunggulan lokal yang dimiliki, serta tentunya tujuan akhirnya adalah mewujudkan profil pelajar Pancasila.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top