Pemanfaatan Sumber Daya Alam Untuk Kegiatan Proyek Dan Intrakurikuler

Pemanfaatan Sumber Daya Alam untuk Kegiatan Proyek dan Intrakurikuler


Sumber daya alam yang ada dapat kita manfaatkan untuk mendukung kegiatan proyek dan kegiatan intrakurikuler. Saya adalah guru kelas I (satu) pada satuan pendidikan UPT SD Negri Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.

Mengajar anak-anak usia dini susah-susah gampang. Jika mengajar dengan memposisikan diri sebagai pendidik, pembelajaran akan sulit diterima murid yang masih terbilang anak-anak. Begitupun yang saya lakukan dahulu. Saya mengajar tanpa memperhatikan kemauan anak-anak. Alhasil pelajaran yang begitu mudah menurut kita namun bagi murid-murid, materi yang disampaikan tidak mampu terserap sesuai keinginan kita.

Sumber daya alam di daerah saya mengajar adalah  daerah pedesaan, dimana kekayaan alam sekitar berupa tanah yang subur, sumber kekayaan alam dan bumi juga melimpah. Saya sebagai pendidik terdorong untuk memanfaatkan sumber daya yang ada di sekolah untuk mendukung kegiatan belajar sesuai minat siswa. Saya juga merasa berkewajiban mengembangkan sumber alam yang ada sebagai kegiatan proyek yang dapat mewujudkan profil pelajar Pancasila pada murid saya.

Bagaimana menyajikan pelajaran dengan memanfaatkan sumber daya alam, sesuai dengan keinginan anak,  namun juga bagaimana menyajikan pelajaran yang sesuai dengan kurikulum Merdeka Belajar.  Menurut kurikulum Merdeka Belajar struktur kurikulum dibagi dua yaitu pembelajaran intrakurikuler yang terdiri dari literasi dan numerasi dan kegiatan proyek profil pelajar Pancasila.

Materi pelajaran anak-anak sudah sampai pada Tema 7  “ Benda, Hewan dan Tanaman Sekitarku”.  Pembelajaran menggunakan buku paket terkadang tidak sesuai dengan kondisi murid saya. Akhirnya saya berinisiatif sendiri membuat materi atau modul ajar yang sesuai dengan keadaan, lingkungan, dan minat anak-anak. Kebetulan saya mengajar di kelas 1 Sekolah Dasar dimana pembelajaran tematik terpadu digunakan hingga membuat pembelajaran bermakna. Bagaimana kegiatan proyek dapat dipadukan dengan kegiatan intrakurikuler (literasi dan numerasi).

Tujuan belajar hari ini yaitu dengan menanam tanaman kunyit, murid dapat membudidayakan kekayaan alam daerahnya, mampu mengidentifikasi ciri-ciri makhluk hidup. Selain itu pada pembelajaran tematik yang terintegrasi dengan pembelajaran matematika tujuan pembelajarannya setelah menanam tanaman kunyit anak-anak dapat memahami konsep penjumlahan dan pengurangan, mampu menyelesaikan persoalan yang berhubungan dengan penjumlahan dan pengurangan. Dan yang lebih menantang untuk berliterasi pada pembelajaran tematik yang terintegrasi dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia setelah melakukan praktik wawancara dengan temannya murid-murid saya mampu membuat laporan sederhana dalam bentuk tulisan narasi maupun deskripsi.

Kegiatan pembelajaran yang saya lakukan adalah seperti biasa murid berbaris sebelum masuk kelas. Saya memberikan gambar emoji dan murid  memilih salah satu emoji. Tujuan saya untuk mengetahui suasana hati murid sebelum belajar. Saya juga memberi pertanyaan tentang pembelajaran yang telah lalu atau pembelajaran yang akan saya sajikan kepada mereka sebelum masuk kelas. Tujuan saya adalah untuk mengetahui kesiapan awal belajar murid terkait konten yang sudah saya berikan atau yang akan saya berikan. Kegiatan ini dapat juga disebut sebagai penilain formatif di awal proses pembelajaran.

Untuk memupuk jiwa kepemimpinan murid secara bergantian saya menunjuk murid untuk memimpin berbaris sebelum masuk kelas dan berdoa sebelum belajar. Sedangkan sebagai upaya  memupuk rasa cinta kepada tanah airnya mereka menyanyikan salah satu lagu nasional (Indonesia Raya, Garuda Pancasila, Padamu Negeri, Mengheningkan Cipta, Indonesia Pusaka, dan lain-lain). Trik yang saya gunakan yaitu dengan menyanyikan satu lagu setiap hari dan mengganti lagu berikutnya setelah mereka hafal lagu tersebut, saya juga memperbolehkan anak-anak memainkan jarinya di atas meja untuk mengiringi lagu yang dinyanyikannya. Situasi menjadi seru dan menyenangkan bagi murid-murid.

Sedangkan untuk menyiapkan kondisi psikis mereka, saya mengajak mereka bermain tepuk fokus, misalkan saya mengucapkan kata mangga dan meminta anak-anak melakukan tepuk sebanyak 3 X, kata singkong tepuk 2 X dan kata jamu tepuk 1 X. Ketika murid-murid berhasil melakukan tepuk dengan benar itu artinya pikiran  murid-murid sudah dalam keadaan fokus dan siap mengikuti pelajaran. Atau saya juga mengajak mereka memegang anggota tubuhnya sesuai ucapan saya bukan apa yang saya contohkan. Kegiatan ini membuat murid-murid tertawa terbahak-bahak karena ketika saya mengucap kata mata dan saya memegang kaki  murid-murid. Ada yang salah yaitu meniru saya memegang kaki, lalu saya berucap, ”Memang mata kamu sekarang pindah disitu, ya nak?” Mereka tertawa dengan riangnya. Dan ketika murid-murid sudah benar maka saya bersiap-siap menyajikan konten.

Konten yang saya berikan tidak serta-merta saya berikan begitu saja. Saya melakukan alur merdeka yaitu dengan memberikan pertanyaan pemantik supaya murid-murid bebas mengeluarkan pendapat dan idenya, konten versi pemikiran anak-anak. Saya biarkan mereka mengeksplore pengetahuannya sendiri dengan mengajak  murid-murid melakukan praktik budidaya tanaman kunyit. Di dalam proses menanam, saya sering meminta tolong dan melontarkan pertanyaan.

“Tolong anak-anak, botolnya diberi tanah. Menurut kalian mengapa diberi tanah?”

“Tolong anak-anak, bibit kunyitnya disiram. Mengapa kok disiram, ya? Adakah yang bisa berpendapat?”

“Anak-anak, sekarang tolong pisahkan tanaman kunyit yang sudah berdaun di bawah sinar matahari. Mengapa harus di bawah sinar matahari, ya?”

Dari sini,  murid-murid bercerita sesuai pendapat mereka dan ketika jawaban mereka salah, saya tidak pernah bilang jawaban kamu salah. Saya meminta pendapat mereka mengapa mempunyai pendapat demikian. Berikutnya, saya meminta pendapat teman-temannya yang lain. Hingga jawaban nereka sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Tanaman kunyit yang telah mereka tanam saya jadikan sebagai media belajar supaya anak-anakku memahami konsep penjumlahan dan pengurangan. Caranya mereka menghitung jumlah kunyit yang telah mereka susun masing-masing senanyak lima baris. Kemudian saya meminta mereka memisahkan tanaman kunyit yang sudah berdaun di bawah sinar matahari. Setelah itu  murid-murid menghitung sisa tanaman kunyit tersebut. Setelah  murid-murid memahami konsep tentang penjumlahan dan pengurangan, Saya memberikan suatu soal cerita yang berhubungan dengan kehidupannya sehari-hari. Ada pula yang menjawab secara lisan. Hasilnya memuaskan. Hampir semua anak dapat menjawab dengan benar.

Kemudian saya meminta murid-murid melakukan wawancara bersama teman-temannya tentang apapun yang berhubungan dengan makhluk hidup. Pertanyaan pemandu untuk melakukan wawancara adalah apa kamu memelihara tanaman atau hewan? Apa hewan atau tanaman yang kamu rawat? Bagaimana ciri-cirinya? Bagaimana cara merawatnya? Kemudian murid-murid menulisnya dalam bentuk cerita di buku tugasnya. Bagi murid-murid yang kurang lancar menulis dan lebih menyukai menggambar mereka boleh menggambar hasil wawancaranya. Dan bagi yang suka bercerita boleh menceritakan hasil wawancaranya di depan kelas. Mereka saya beri kebebasan sesuai kesiapan belajarnya.

Tugas-tugas kontekstual juga konten membuat candu belajar anak-anak. Si Zahra pernah bercerita pada saya, “ Bu guru, kata ibu, saat tidur aku senyum-senyum sendiri. Lalu ibuku bertanya, kenapa kok senyum-senyum Zahra? Ternyata jawaban Zahra teringat peristiwa lucu ketika belajar bersama guru dan teman-temannya”. Subhanallah, saya terharu melihat celoteh anak-anakku.

Alhamdulillah dari kegiatan kontekstual, murid-murid dapat memahami konten dengan mudah. Hasil belajar mereka memuaskan karena murid-murid mengalami sendiri konten tersebut. Bukan dari cerita guru yang berupa ceramah namun melalui kegiatan projek yang telah dijalaninya.

“Bu guru, besok belajar apa?” Sepertinya mereka tidak sabar menunggu kejuatan belajar dari saya esok harinya.

Demikian praktik baik yang sudah saya lakukan. Harapan saya dengan hasil kegiatan proyek tanaman kunyit nanti murid-murid dengan bimbingan saya dapat membuat minuman dari bahan kunyit dan menjualnya dikantin sekolah. Dimana dari hasil penjualan minuman kunyit nanti dapat membantu dana pembangunan musholla di sekolah sehingga mengajarkan anak untuk berjiwa sosial tinggi.

Kesimpulan yang saya ambil dari kegiatan belajar  ini adalah, untuk menghasilkan kesuksesan belajar anak pendidik perlu mengetahui minat, kesiapan belajar, dan profil  muridnya. 

Kegiatan belajar dapat berhasil dengan mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional murid. Dengan memfasilitasi sumber dan media sesuai minat dan karakter murid serta memberikan kebebasan murid menjawab sesuai kesukaan dan kesiapan belajarnya, sehingga anak-anak tidak merasakan tertekan dalam belajar.

Kegiatan proyek dapat dipadupadankan mendukung kegiatan intrakurikuler (literasi dan numerasi). Kegiatan tematik terpadu yang saya lakukan dengan mengimplementasikan beberapa mata pelajaran dalam sebuah kegiatan projek membuat anak-anak mengalami sendiri pembelajaran menjadi bermakana dan konten tersampaikan dengan baik, tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan cara yang begitu menyenangkan.

Kegiatan budidaya kunyit yang telah dilakukan murid-murid dapat memupuk jiwa disiplin, bertanggung jawab dengan kegiatan merawat tanaman kunyit setiap hari. Murid-murid menjadi tahu manfaat menanam tanaman kunyit bagi kesehatan dari sini timbul rasa bangga akan hasil bumi tanah airnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top