Mewujudkan Merdeka Belajar Di Dalam Kelas Dengan Menggunakan Asesmen Diagnostik Sebelum Pembelajaran

Nama saya Susi Afrianita, S.Pd, guru SMP Satap Negeri 8 Lhoksukon yang mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris yang mengajar di salah satu sekolah pedalaman Kabupaten Aceh Utara. Saya merupakan salah satu guru penggerak Angkatan 1 dari Kabupaten Aceh Utara. Lokasi tempat tinggal saya dengan sekolah berjarak sekitar satu jam lebih perjalanan dari kota Lhokseumawe.

Saat saya masuk ke kelas VIII (delapan) saya berencana mengajar pelajaran Bahasa Inggris dengan topik “Give Attention” dengan menggunakan model pembelajaran “Rule Play” berdasarkan dialog yang ada dalam topik tersebut. Dan saya melibatkan murid saya untuk menjadi model materi tersebut di depan kelas. Tujuannya agar murid-murid saya memiliki pemahaman yang lebih mengenai materi  tersebut, sehingga mereka bisa mempraktekkan sendiri dan bisa memahaminya. Jadi tidak hanya sekedar membaca dan mendengar saja. Sebagai seorang guru saya memiliki keinginan agar murid saya bisa antusias dalam belajar, ingin menciptakan suasana merdeka belajar di dalam kelas, saya selalu merancang strategi-strategi belajar yang berbeda, dengan tujuan agar murid semangat dan punya keinginan yang serius dalam belajar. Walaupun harapan untuk mewujudkannya membutuhkan tenaga ekstra dan harus sabar. Namun, rencana itu ternyata tak berjalan seperti yang saya inginkan, banyak siswa yang bosan dan kurang memberikan perhatian terhadap penampilan beberapa teman-temannya di depan kelas. Bahkan beberapa siswa lainnya ada yang mengatakan kami tidak tahu bu apa yang mereka sampaikan. Dan sebagian dari mereka ada yang menunjukkan karakter tidak peduli serta diam saja. Saya sebagai seorang guru penggerak  perubahan harus mampu mencari solusi untuk menjalankan peran saya sebagai seorang guru yang bertanggung jawab untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Akhirnya saya pun mencoba mengidentifikasi masalahnya dengan mewawancarai beberapa siswa. Berdasarkan fakta yang terjadi, saya mencarikan solusi dengan membuat asesmen diagnostik untuk mengetahui bentuk keberagaman peserta didik saya mulai dari latar belakang, keluarga, keyakinan, harapan, kegemaran/hobi, jenis kelamin, bentuk fisik, dan kemampuannya. Saya melakukan asesesmen diagnostik sebelum pembelajaran kepada murid saya untuk memetakan kebutuhan dan karakteristik mereka. Akhirnya saya pun menemukan faktornya yaitu mereka tidak suka gaya belajar kinestetik. Dan seperti yang saya alami di sekolah banyak murid saya kurang suka pelajaran bahasa Inggris tetapi saya harus mampu merancang pembelajaran yang menyenangkan bagi mereka berdasarkan situasi di sekolah saya, sebagai guru saya selalu ingin memberikan yang terbaik kepada mereka, walaupun masih ada kendala dan hambatan dalam menjalani aksi tersebut. Saya tidak pernah menyerah untuk membuat perubahan pembelajaran yang menyenangkan. Dengan menerapkan gaya belajar audio visual tak disangka  ternyata murid-murid saya menjadi lebih semangat belajar, minat belajarnya juga meningkat, serta membuat perubahan hasil belajar murid-murid menjadi lebih baik, ini terlihat dari keaktifan mereka saat berdiskusi tentang topik yang saya berikan, dan students wellbeing tercapai dengan melakukan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan di dalam kelas untuk mewujudkan merdeka belajar. Caranya saya selalu menggunakan IT dalam belajar untuk membuat siswa-siswa saya senang, ternyata mereka lebih menyukai pembelajaran menggunakan video atau gambar-gambar yang saya download di YouTube daripada model yang saya tampilkan. Pelajaran yang didapat selama menghadapi tantangan dan hambatan yang ada, mengajar harus terlebih dahulu menyesuaikan kebutuhan siswa kita, karena pencapaian mereka tidak sama dalam proses belajarnya, kita sebagai guru harus lebih memahami karakteristik  siswa kita untuk dapat mengakomodir kebutuhan belajarnya secara optimal. Kelebihan aksi yang sudah saya lakukan membuat siswa lebih antusias dalam belajar. Kelemahannya saya harus memberikan perhatian ekstra kepada murid-murid saya yang masih mengalami keterlambatan hasil belajarnya dengan mengadakan pendekatan kepada mereka, membimbing secara berkala serta memberikan ruang kolaborasi yang lebih baik lagi dengan orangt tua siswa agar sama-sama memantau belajarnya serta membuat laporan perkembangan hasil belajarnya kepada orang tua mereka. Untuk kelemahannya saya memperlakukan siswa saya seperti mendidik anak sendiri. Karena mereka membutuhkan perhatian yang lebih khusus dari saya.

Demikian sepenggal cerita berbagi praktik baik yang sudah saya lakukan di sekolah saya, semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi guru lain untuk selalu memotivasi belajar siswanya tanpa mengukur kemampuan setiap murid dan memperlakukan mereka secara adil di di dalam kelas. Salam merdeka belajar.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top