Merdeka Belajar Melalui Even Literasi

MERDEKA BELAJAR MELALUI EVEN LITERASI

Oleh : Sitti Aminah,S.Pd

Program Merdeka Belajar merupakan program pemerintah yang sedang booming saat ini merupakan program transformasi pendidikan demi terwujudnya sumber daya manusia Indonesia unggul dan memiliki Profil Pelajar Pancasila. Sebagai guru Bahasa Indonesia yang telah mengajar lebih kurang 25 tahun lamanya, tentunya saya merasa memiliki tanggungjawab

Guru menciptakan suasana belajar yang merdeka kepada murid-muridnya. Guru mampu menepis miskonsepsi belajar yang membosankan. Siswa lancar membaca dan menulis sudah pasti tidak memiliki kendala dalam memahami pelajaran. Sebaliknya siswa yang belum lancar membaca dan menulis akan menjadi pe er penting bagi guru bahasa untuk terus sabar membimbingnya sampai mereka bisa membaca dan menulis dengan lancar. Membaca dan menulis merupakan hal urgen sebagai modal utama untuk bersosialisasi dalam berbagai aktivitas di tengah-tengah masyarakat.

Sebagai guru, saya tidak mampu mengelak dari tanggung jawab ini. Tanggungjawab memberantas siswa dari buta huruf dan buta konsep. Hal ini akan menjadi problem serius ketika masih ada siswa SMA yang belum mampu membaca dan menulis dengan lancar di sekolah. Bagaimana mereka bisa memahami isi bacaan untuk berbagai kepentingan ?. Mereka juga akan berhadapan dengan masalah besar terutama sekali saat mengerjakan tugas dan menghadapi ujian sekolah. Untuk memahami konsep dan menghubungkan apa yang dibaca dengan kenyataan di sekitar mereka, tentu hal ini memerlukan kelancaran membaca dan pemahaman yang mendalam tentang apa yang dibacanya.

Terkadang saya mengalami dilema dan tantangan dalam mengajar. Terutama ketika berhadapan dengan rata-rata siswa yang tidak tertarik dengan membaca. Mereka hanya membaca saat ada tugas yang harus dikerjakan. Bisa dibayangkan betapa minimnya informasi yang mereka peroleh. Membaca karena keterpaksaan. Persoalan yang terjadi bagaimana ia bisa memperkaya diri dengan berbagai informasi penting yang setiap detik hadir dan wira-wiri di dunia terutama dunia teknologi. Kebanyakan mereka bahkan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di sekelilingnya.

Siswa lebih tertarik dengan berbagai aplikasi game biasanya apatis dengan informasi penting yang ada di sekitar mereka. Mereka akan mendapatkan kesenangan dan hiburan melalui game di internet. Bahkan game dapat memberikan lebih dari apa yang mereka inginkan jaringan pertemanan dan uang. Karena menurut mereka tujuan akhir dari sekolah adalah untuk mendapatkan uang. Pemikiran keliru seperti ini membuat mereka semakin jauh dari dunia empati dan sosial karena kesenangan dan uang bagi mereka adalah segala-galanya. Efeknya akan fatal bagi masa depan mereka. Siswa yang berada di comfort zone, menjadi tidak peka terhadap lingkungan sekitar, pemalas, tidak memiliki kemandirian dan tanggungjawab, susah mengambil keputusan dan mudah terjebak kepada hal-hal negatif yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Bila dikaitkan dengan program Mas Menteri Nadiem Makarim tentang Asesmen Kompetensi Minimum ( AKM ) siswa, maka tuntutan siswa untuk lebih memperkaya diri dengan banyak memahami informasi literasi dan numerasi, maka sudah seperti suatu keharusan bahwa keterampilan siswa membaca dan menulis adalah sesuatu yang wajib . Dan tanggungjawab ini tentunya ada di pundak kita sebagai guru, terutama guru bahasa Indonesia.

Berawal dari keresahan tersebut, saya dengan beberapa teman guru di sekolah mencoba beraksi mencari solusi, merancang ide program yang bertujuan untuk memotivasi serta merangsang minat baca dan menulis siswa. Program ini saya beri nama Reading Day.

Reading Day merupakan salah satu kegiatan literasi dalam bentuk lomba penyampaian intisari buku. Setelah membaca beberapa buku, siswa mampu menyampaikan intisari buku secara persuasif dan menarik di depan teman-temannya. Kegiatan ini bertujuan untuk menggalakkan minat baca-tulis di kalangan siswa, khususnya siswa SMA. Kegiatan yang melibatkan siswa kelas sepuluh hingga dua belas ini dilaksanakan setiap setahun sekali. Pendaftaran peserta dimulai awal semester pertama. Siswa yang sudah mendaftarkan diri wajib membaca tujuh buku dengan berbagai genre dalam waktu tiga bulan. Dari tujuh buku tersebut, juri akan mengacak dua judul untuk dipresentasikan sesuai pilihan juri. Untuk kegiatan lomba dijadwalkan selesai ujian semester pertama. Tujuannya agar siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam menghabiskan bacaan, memahami isi buku serta tidak terganggu dengan proses belajar mengajar dan penyelenggaraan ujian.

Untuk memudahkan pelaksanaan acara ini, saya bersama teman-teman menyusun teknis lomba terlebih dahulu. Kegiatan tersebut tentu melibatkan guru dan siswa . Tahapan yang harus dilaksanakan oleh masing-masing anggota panitia adalah menyebarkan poster kegiatan, membuat spanduk, mendata jumlah peserta, melakukan briefing tentang teknis perlombaan, jadwal lomba dan hadiah untuk peserta yang mendapat juara. Untuk penjurian kami memilih guru-guru yang berkompeten dan memahami tujuan lomba.

Kegiatan ini diselenggarakan selama dua minggu saat pengisian rapor. Masing-masing jenjang kelas mendapat kesempatan mengikuti lomba ini selama 3 hari secara bergiliran hingga selesai kegiatan. Sekolah juga menggandeng pihak terkait seperti penerbit Erlangga untuk ikut terlibat dalam mensponsori kegiatan tersebut.

Antusias peserta luar biasa dan rata-rata yang mendaftar hampir setengah mereka dari setiap kelas. Perubahan yang sangat jelas adalah perpustakaan yang biasanya sepi, kini menjadi ramai pengunjung. Mereka berbondong mencari buku-buku menarik untuk dibaca sebagai upaya dalam mengikuti lomba. Perubahan ini tentu sedikit aneh, mengingat hari-hari biasa siswa yang masuk perpustakaan dapat dihitung dengan jari.

Siswa yang memanfaatkan waktu istirahat dengan membaca di bawah pohon atau di teras sekolah pun kini menjadi suatu pemandangan yang unik. Yang biasanya nongkrong di kantin, kini justru lebih terlihat duduk berkelompok atau sendiri sambil membaca buku. Di luar ekspektasi, even reading day ini benar-benar menyedot perhatian siswa dan perubahannya sangat berdampak. Sebagian besar siswa menjadi rajin dan semakin bergairah dalam membaca dibandingkan sebelumnya. Kini perpustakaan sekolah menjadi tempat menarik bagi mereka yang mulai kecanduan membaca. Banyak siswa yang betah berlama-lama bersama buku sehingga membuat petugas harus membagi jadwal masuk perpustakaan untuk setiap kelas. Karena dampak dan manfaatnya sangat besar bagi siswa, maka kegiatan ini kami jadikan sebagai program rutin sekolah yang terus kami tingkatkan sesuai perkembangan pendidikan setiap tahunnya.

Tidak hanya sampai di sini, saya dan teman-teman di sekolah, tentu merasa bahagia dan menjadi mood booster untuk melakukan perubahan berikutnya. Setelah even reading day sukses, misi yang akan kami jalankan selanjutnya adalah menulis. Siswa alumni dari kegiatan tersebut saya ajak bergabung dalam group WA literasi sekolah. Meskipun saya tidak berharap banyak, namun saya yakin dengan keikhlasan, perjuangan dan semangat teman-teman guru hebat kegiatan ini akan berjalan sukses sebagaimana kegiatan sebelumnya. Semangat guru-guru untuk mau berubah, bergerak dan memberi dampak kepada siswa adalah sangat penting untuk merubah wajah pendidikan negeri ini ke arah yang lebih baik.

Saya mulai merancang program literasi yang bertajuk SAKESAKU ( Satu Kelas Satu Buku). Siswa dimotivasi untuk menulis pengalaman selama kegiatan reading day berlangsung. Bagi siswa yang memiliki pengalaman atau pandangan tentang apa saja, kita bebaskan juga untuk menuangkan ide-ide mereka melalui tulisan.

Awalnya mereka agak kesulitan dalam menentukan ide tulisan dan memulai menulis paragraf awal. Sebagai guru saya dan teman-teman dengan penuh kesabaran membimbing dan mendampingi mereka. Untuk menghindari rasa bosan, saya meminta mereka untuk menulis tentang apa saja yang mereka alami atau hal-hal unik yang ada di sekitar mereka dengan metode one day one paragraph atau satu hari satu paragraph. Mereka boleh menulis dengan tema kearifan lokal dan menggunakan bahasa daerah yang mudah ditulis. Setelah selesai baru diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Karena tujuan terpenting dalam kegiatan ini agar siswa tergerak mengeksplorasi ide dengan sendirinya.

Ternyata trik ini membuat mereka menjadi lebih santai dan tidak terbebani saat menulis. Yang terpenting mereka dapat menghasilkan satu paragraf setiap harinya. Mereka yang sudah selesai menulis, kami jadwalkan bimbingan khusus untuk proses edit di sore hari dengan memanfaatkan ruang multimedia. Saya dan teman-teman membagi kelompok siswa untuk dibimbing oleh beberapa orang guru. Setiap kelas akan masuk ruang multimedia secara bergiliran untuk mendapat bimbingan lebih lanjut sampai tulisan benar-benar siap dikirimkan ke penerbit.

Dengan metode ini, mereka yang tidak hobi menulis tetap akan mencoba menghasilkan satu paragraf setiap harinya. Namun menulis satu hari satu paragraf ini hanya bertahan 1 minggu. Setelah paragraf kedua, tiga, empat seterusnya semakin hari ide-idenya semakin mengalir lancar dan Alhamdulillah dalam 2 minggu mereka berhasil menulis 1000-2000 kata. Siswa yang selesai lebih cepat, akan masuk kelas bimbingan sore untuk mengedit ejaan dan meluruskan gagasan agar menjadi tulisan yang baik dan enak dibaca. Siswa yang telah selesai, mereka membantu temannya untuk mengedit meskipun tetap dalam bimbingan dan arahan guru. Setelah selesai semua, saya bersama teman-teman guru yang lain mengoreksi kembali tulisan tersebut untuk seterusnya kita kirim ke penerbit. Kegiatan ini membutuhkan kerja keras guru serta pendampingan dan motivasi terus-menerus. Karena setiap siswa memiliki perkembangan penulisannya berbeda-beda. Sehingga guru harus ekstra sabar hingga siswa menuntaskan tulisannya.

Alhamdulillah tahap pertama dari 5 kelas bimbingan, siswa berhasil mengumpulkan masing-masing satu tulisan. Setelah melalui pengeditan, tulisan tersebut kami kirim ke penerbit untuk dicetak dalam bentuk buku ber ISBN. Tahun selanjutnya mereka berhasil menularkan kepada adik-adik kelasnya dan menghasilkan 6 buku dari setiap kelas bimbingan. Buku tersebut berupa kumpulan cerpen, artikel, puisi, dan pantun. Program SAKESAKU (Satu Kelas Satu Buku ) ini telah berhasil menghasilkan karya siswa sebanyak 18 judul buku sampai saat ini. Sebelumnya pada tahun 2019 ada 9 buku siswa yang telah di launching oleh Kadisdik Provinsi Aceh.

Dengan adanya penghargaan tersebut, siswa semakin bersemangat dalam menulis dan menghasilkan karya. Perubahan ini terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Siswa seperti kecanduan dalam menulis. Untuk tahun 2022 ini siswa berhasil menulis 6 judul buku yang saat ini sedang layout dan siap dicetak oleh penerbit.

Tak ada yang tidak mungkin selama kita sebagai guru mau bergerak untuk berubah. Tentunya perubahan yang berdampak yang dapat merubah wajah pendidikan kita semakin baik dan sesuai dengan tuntutan zaman.


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top