Melibatkan Orang Tua Menilai Kemampuan Anak Melalui Kesepakatan Kelas

Melibatkan Orang Tua Menilai Kemampuan Anak Melalui Kesepakatan Kelas
Lailia Syahriatum M
“Kenapa ya, murid-murid kalau bermain itu pasti ada saja yang menangis? Mau saat bermain di kelas atau di luar kelas, pasti ada saja yang menangis karena dibuat kurang nyaman. Hampir setiap hari kejadian menangis terulang disela-sela kegiatan belajar berlangsung. Kira-kira kenapa ya mereka?.”
Sekolah saya adalah sekolah yang berusaha untuk melakukan pendampingan belajar dengan berpusat pada anak dan berorientasi pada proses yang dalam penilaiannya menggunakan penilaian otentik. Salah satu prinsipnya adalah Ipsative, menilai murid dengan kemampuan yang dulu, dibandingkan dengan perkembangan yang sekarang dan tidak dibandingkan dengan kemampuan murid lain. Untuk mendukung usaha ini, dari pihak yayasan memberikan kuota di masing-masing kelas dengan tujuan bisa lebih fokus melakukan pendampingan belajar yang menyenangkan dan bermakna sesuai dengan tahapan perkembangan.
Tahun ini adalah kali pertama saya menjadi fasilitator belajar bersama anak usia 2-3 tahun, tepatnya di kelas KB A. Pendampingan belajar di kelas KB A ini, saya bersama bu Farida yang sebelumnya sudah pernah menjadi satu tim fasilitator tahun lalu di kelas TK B. Di Kelas KB A saya belajar bersama enam murid, tiga murid laki-laki dan tiga murid perempuan. Karena semua murid itu unik dan mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, saya mendaptakan hasil observasi yang beragam, salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan bertanya langsung kepada orang tua sebelum pembelajaran dimulai dan observasi lanjutan selama proses belajar. Hasil observasi murid KB A, ada beberapa murid yang memukul, mendorong, menggigit, dan menangis histeris untuk mempertahankan diri agar keinginannya terpenuhi saat bermain bersama. Saya mencoba merefleksikan kejadian ini kepada orang tua menanyakan kebiasaan anak di rumah, dari obrolan ini muncul keinginan untuk menstimulus apa yang menjadi kebutuhan perkembangan mereka dengan pembiasaan yang tepat untuk bisa bermain dengan nyaman.
Hasil obrolan dengan orang tua, refleksi harian selesai pembelajaran, dan sharing supervisi dengan wakil ketua yayasan. Saya menemukan solusi yang bisa dicoba untuk membantu menstimulus kemampuan anak dengan harapan perbaikan kedepannya. Mendisplay kesepakatan kelas adalah salah satu solusi pilihan saya. Usia KB A, sesuai dengan tahapannya membutuhkan bukti konkret dan pengulangan obrolan untuk melakukan sesuatu. Diawal proses ini, melihat ketertarikan anak pada buku terlihat berkembang baik, saya memberikan media buku bacaan yang isi ceritanya tentang poin-poin yang akan dibuat kesepakatan kelas. Setiap pagi, saya membacakan buku cerita tersebut dengan tujuan anak bisa memahami informasi dan mempraktikkan apa yang dilihat dan didengar dari buku bacaan tersebut. Selain media buku, saya juga memberikan media gambar yang dilihat di Handphone secara bergantian dan mengajak anak untuk menebak gambar apa yang dilihat. Selesai anak menebak, guru menguatkan kepada anak maksud dari gambar yang dilihatnya yaitu gambar berbagi makanan, berbagi mainan/bermain bersama, bersabar mengantri, dan beres-beres. Langkah selanjutnya, saya menawarkan kepada anak untuk terlibat langsung mencetak gambar yang ada di Handphone. Semua anak menyetujui tawaran ini dan semangat menunggu gambar yang dicetak keluar dari alat cetak yang ada di kantor. Gambar yang dicetak, langsung saya tempel bersama anak di tembok kayu untuk tindak lanjut obrolan setiap hari, dengan tujuan pembiasaan kesepakatan kelas bisa dipraktikkan di sekolah dan di rumah.
Alhamdulillah, hasil dari obrolan kesepakatan kelas yang diulang-ulang setiap harinya. Saya mendapatkan kemampuan anak berinteraksi dengan temannya mulai terlihat perkembangan baik, saling membantu di saat temannya butuh bantuan, siap bermain bersama, bekerja sama beres-beres, berbagi, dan bersabar menunggu giliran/megantri. Satu teman dengan teman lain bisa saling menilai kemampuan teman lainnya dengan cara mengingatkan temannya yang melakukan sesuatu tidak sesuai kesepakatan kelas. Perkembangan baik ini, saya ceritakan rangkaian prosesnya di WAG kelas KB A dan mengirimkan gambar kesepakatan yang sudah disepakati, agar kesepakatan terebut berkelanjutan di rumah. Karena saya yakin bahwa mengkomunikasikan semua proses dan hasil belajar kepada orang tua adalah hal penting untuk membangun keberlanjutan proses pembelajaran anak.
Respon orang tua bercerita menanggapi informasi tentang kesepakatan dan menilai kemampuan anak saat di rumah yang sesuai dengan beberapa poin kesepakatan kelas. Terlihat, anak mampu melanjutkan praktik apa yang dilakukan di sekolah, menjadi kebiasaan baik saat di rumah. Dari peristiwa ini, saya dan orang tua semakin percaya dengan kemampuan anak yang beragam, ketika mau berusaha menstimulus dengan cara yang sesuai tahapannya, maka anak juga akan percaya atas kemampuan yang dimiliki dan bisa saling menghargai kemampuan diri sendiri dan kemampuan orang lain.
Berikut saya sertakan respon orang tua bercerita kemampuan anak, mempraktikkan kesepakatan kelas di rumah.
Cerita dari orang tua mbak Icha.
“Ini biasanya dilakukan mbak Icha kalo mau beli jajan, ngambilnya pasti dua bu, satunya buat mas Acid katanya, kadang-kadang juga menyebutkan nama salah satu teman di sekolah”.
Cerita orang tua mbak Tsasa
“Inggih bu, dik Tsasa sebelum bermain bersama mbak Thalita dan mas Ubay, saya buat kesepakatan membereskan mainan setelah selesai bermain. Tapi dik Tsasa sepertinya belum bersedia untuk ikut membereskan mainan bersama mbak Thalita dan mas Ubay. Tapi, ketika dik Tsasa baru dating dari rumah mbah dan melihat mainan berantakan, dik Tsasa malah bersemangat untuk membereskan, sambil bilang “Ya Allah berantakan”.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top