Kesepakatan Kelas Menumbuhkan Kemandirian Dan Tanggung Jawab Terhadap Murid

Kesepakatan Kelas Menumbuhkan Kemandirian Dan Tanggung Jawab Terhadap Murid

Dari Jabatan Kepala Sekolah saya dimutasikan, dan mendapat kesempatan menjadi guru kelas 6 pada salah satu Sekolah Dasar dikecamatan saya, yang mana sekolah tersebut lokasinya berada dilokasi tempat tinggal saya. Dan murid murid yang saya hadapi tersebut adalah murid-murid yang saya kenal begitupun juga dengan orang tua dan keluarganya yang merupakan tetangga saya.

Sebagai Kepala sekolah dahulunya, saya masuk kelas atau berhadapan dengan murid hanya sesaat saja untuk mengisi kekosongan jam karena guru berhalangan hadir.

Saya mengisi waktu dengan banyak memberikan motivasi motivasi dan arahan arahan kepada murid murid bukan menyampaikan materi.

Dan sekarang saya ingin fokus dan betul betul ingin menjadi sosok guru yang betul betul utuh dan mengabdikan diri ini untuk menjadikan mereka Insan yang berguna dan bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, agama, bangsa dan negaranya nanti.

Saya bertekat akan menjadikan diri saya seorang guru, yang disenangi, menjadikan murid murid saya merasa kehilangan tanpa adanya saya diantara mereka

Teringat 12 tahun yang lewat, semasa saya menjadi guru, guru tidak pernah tersenyum dihadapan murid muridnya dan murid murid merasa terbeban dan terkekang dalam kegiatan pembelajaran, Dan ada juga beberapa murid yang acuh dan keluar kelas, izin dengan berbagai alasan.

Sedangkan sebagai guru sudah cukup lelah menyajikan pembelajaran, tetapi sewaktu dilakukan penilaian hasilnya jauh dari harapan, sehingga guru semakin kecewa dan melampiaskan kekecewaannya kepada murid.

Dan apalagi dengan adanya masa pandemi beberapa tahun ini, waktu dan situasi belajar disekolah tidak maksimal seperti waktu sebelum masa pandemi.

Sehingga murid murid banyak ketinggalan materi pembelajaran, dan mereka harus dituntut untuk bisa nilainya diatas KKM supaya bisa naik kejenjang kelas berikutnya atau lulus dari sekolah, apakah saya bisa mengatasi masalah masalah tersebut ?

Dan selain itu, karena beberapa waktu yang lalu murid murid belajar online atau during, jadi mereka banyak dirumah bersama keluarga, sehingga semangat dan mau belajar mereka juga menurun, mungkin karena mereka sudah terbiasa nyantai dirumah, jadi suasana seperti itu juga terbawa sewaktu mereka sudah belajar tatap muka disekolah.

Apakah saya bisa memotivasi dan mengajak mereka supaya semangat belajarnya muncul kembali ?

Apakah saya bisa menciptakan situasi belajar yang menyenangkan bagi mereka?

Dan apakah saya juga bisa menikmati pembelajaran yang menyenangkan bersama mereka?

Dan bermacam pertanyaan lain muncul dipikiran saya, dan membuat tantangan tersendiri dalam diri untuk berbuat dan mengatasi segala permasalahan untuk melakukan perubahan.

Awal saya menuju ruang kelas, pikiran saya berkecamuk dan sudah terbayang hal hal yang tidak nyamannya saya berada diruangan kelas.

Apa yang saya bayangkan itu betul betul terjadi, saya mnemui suasana kelas yang tidak jauh dari bayangan saya, murid murid tidak menghargai saya sebagai gurunya yang berdiri didepan mereka, Mereka acuh tak acuh, ada yang berbicara dengan teman sebangku, ada yang keluar minta izin sampai 3 orang, dan ada juga yang memperhatikan saya berbicara, tetapi pandangannya kosong dan terbeban, seolah olah merasa takut dengan saya sebagai gurunya. Tetapi ada juga beberapa orang yang fokus dan betul betul semangat belajarnya.

Pada saat itu saya merasa sediiih….gamang…dan pikiran saya melayang apakah saya bisa bertahan dengan suasana seperti ini……Oh jangan sampai terjadi….alangkah tersiksanya saya kalau  berada dikondisi seperti ini.

Hidup saya kedepan terasa ada beban, hari hari yang akan saya lalui terasa suram dan penuh dengan ketidak nyaman, saya ingin bagaimana beban saya ini bisa menjadi ringan dan nyaman dipundak saya…supaya hari hari saya lebih bermakna.

.

Sebagai guru, jiwa saya meronta dan saya ingin merobah suasana kelas yang adem…penuh semangat dan ceria.

Yang Saya inginkan, murid murid saya antusias belajarnya, gembira…ceria…dan menyenangi pembelajaran yang saya berikan serta mereka mandiri belajar dan merasa bertanggung jawab terdap capaian pembeljaran yang ingi dicapai.

Selain itu saya juga ingin hasil pembelajarannya lebih bermakna, dan bisa mereka terapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari baik bagi dirinya maupun untuk orang lain.

Dan saya ingin mereka merasa bertanggung jawab dan terlibat untuk menciptakan  suasana kelas seperti itu…Apakah saya bisaa…..?

saya membayangkan, alangkah bahagianya saya apabila saya bisa menciptakan suasana kelas seperti itu, dan saya yakin murid-murid akan betah dikelas dan saya juga menemui suasana yang menyenangkan, kehidupan saya menjadi seorang guru yang disenangi dan ditunggu kehadirannya selalu. kembali akan dipenuhi warna kebahagian dan kepuasaan apabila suasana sepeti itu bisa saya ciptakan.

Saya ingin menjadi guru yang bisa menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dan menjadikan mereka mandiri dan bertanggung jawab dengan capaian pembelajaran yang ingin dicapai

Tetapi…..bagaimana………?

Saya mencoba merenung……, dan mencoba mencari cara… dan mengevaluasi cara belajar yang saya lakukan selama ini.

Dan akhirnya Allah tau apa yang saya butuhkan untuk mencari cara yang saya harapkan.

Seorang rekan penggerak senior saya, mengajak saya bergabung diProgram Pendidikan Merdeka Belajar (PPMB) angkatan 1.

Diprogram ini saya mendapat Bea siswa mempelajari modul di Sekolahmu untuk bisa membeli 10 Buah modul, belajar tahap awal yaitu pada tahap Level 0 , saya diberi lima buah modul, yaitu modul tentang Asesmen Formatif untuk Merdeka Belajar, Kesepakatan kelas Merdeka Belajar, Merancang RPP Merdeka Belajar, Pembelajaran Merdeka Belajar Berbasis Kompetensi,  Strategi Pembelajaran Campuran Merdeka Belajar.

Dengan ilmu yang saya dapat dari mempelajari modul modul tersebut, saya mulai praktikkan dikelas saya. Salah satu modul yang sangat terasa betul manfaatnya bagi saya adalah modul Kesepakatan Kelas, karena saya merasa kesepakatan kelas sangat  sesuai dan cocok saya praktekkan dengan kondisi dan keresahan yang saya hadapi dikelas saya.

Langkah awal saya melakukan aksi adalah mengajak murid murid saya merancang strategi membangun kesepakatan kelas dengan diskusi dan merefleksi kondisi kelas dengan melontarkan pertanyaan pertanyan pemantik kepada mereka, yang mana saya sudah mempersiapkan kalimat kaliamat pertanyaan pemantik terlebih dahulu sesuai dengan keresahan atau kondisi yang ingin saya robah dikelas.

Pertanyaan pertama saya adalah, bagiamana tanggapan atau perasaan kalian melihat teman teman kalian dikelas sering keluar masuk ?

Mereka spontan menjawab secara serentak dengan kesan bersorak yang intinya mereka tidak setuju dengan sikap teman temannya yang sering keluar masuk.

Saya membiarkan mereka semua berkomentar dengan suara heboh dengan tersenyum, setelah hening saya memberikan kesempatan kepada salah satu murid untuk memberikan pendapat, dan alasannya mengapa tidak menyetujui sikap teman temannya yang sering keluar masuk tadi.

Murid yang saya tunjuk tersebut menjawab, kalau sering keluar masuk nanti pelajaran yang dijelaskan bu Guru tidak bisa kita dengar bu dan kami yang didalam kelas juga jadi terganggu dan kurang kosentrasi belajarnya melihat mereka buu danapalagi mereka keluar lama buu….trus teman yang lain berkomentar, bagaimana kalau kami mau buang air kecil apakah tidak boleh keluar katanya, kelas riuh….saya bahagia melihat mereka berkomentar dan saling adu pendapat…. setelah situasi udah mulai reda saya ambil alih lagi situasi kelas.

Anak anak semua pendapat kalian benar tidak ada yang salah, tetapi kalau seing keluar masuk itu tidak mungkin sesuai dengan alasan yang disampaikan teman kalian tadi, dan kalau ada teman yang mau buang air kecil tentu tidak mungkin juga ditahan, jadi bagaimana bagusnya….

Saya menuntun mereka….menemukan kesepakatan yang diharapkan, tetapi mereka menyadari dan merasa bertanggung jawab untuk mematuhi apa yang telah mereka sepakati.

Akhirnya satu persatu mereka mengeluarkan pendapatnya, dan saya meminta semua murid menulis pendapatnya dikertas Post-it, setelah itu mereka menempelkannya dipapan tulis dengan mengelompokkan kalimat kesepakatan yang sama dijadikan perkelompok.

Saya menunjuk salah satu murid untuk mebaca satu tulisan diklompokkan dikertas Post-it  dan murid murid yang lain menilai apakah pendapat tersebut cocok untuk disepakati.

Sampai kekelompok tulisan berikutnya, mereka antusias mengikuti dan menilai apa yang cocok disepakati supaya tidak ada lagi teman temannya yang kelauar masuk dalam proses pembelajaran.

Akhirnya dapatlah suatu kesepakatan, bahwa murid boleh keluar kalau:

  • Minta izin guru
  • Mau buang air kecil/besar
  • Ada sesuatu hal yang penting
  • Keluarnya bergantian, tidak boleh berdua
  • Keluarnya tidak boleh lama

Saya meminta pada murid siapa yang mau memindahkaan kesepakatan kita hari ini pada kertas karton dengan tulisan yang indah yang akan kita gantungkan diruang kelas kita ini, supaya kita ingat dan bertanggung jawab mematuhi apa yang telah kita sepakati hari ini.

Dan akhirnya ada beberapa murid menunjuk, terus saya beritahukan bahwa masih ada kesepakatan kelas lain yang akan kita tulis nanti, sekarang cukup satu orang saja yaa, nanti yang lain tunggu giliran.

Itulah salah satu contoh kesepakatankelas yang saya terapkan dikelas saya, masih baanyak lagi kesepakatan kelas lain yang saya diskusi bersama murid murid saya.

Tetapi kesepakatan kelas tersebut tidak saya diskusikan dalam satu hari itu harus tuntas semuanya, tetapi saya ambil dulu point point kesepakatan kelas yang penting dulu sesuai dengan kondisi murid pada saat itu.

Akhirnya satu persatu kesepakatan kelas sudah bisa dibuat dengan adanya diskusi dikelas, saya mengajak murid-murid saya bersama menentukan apakah yang harus disepakati, baik tentang kebersihan, keindahan dan kenyamanan kelas.

Trus saya bersama murid- murid  juga menyepakati, tentang kedisiplinan, yang tidak mengerjakan PR, yang absen tanpa berita dan kesepakatan kesepakatan kelas lainnya.

Saya melihat dengan adanya kesepakatan kelas yang dimusyawarahkan bersama, mereka merasa bertanggung jawab dengan apa yang telah mereka sepakati, mereka komitmen dengan apa yang telah disepakati, terpancar diwajah wajah mereka rasa memiliki dan tekat untuk tidak melanggar apa yang telah disepakati, dan bagi murid yang melanggar mereka siap menerima sanksi yang telah disepakati tanpa ada perasaan tidak senang, tetapi nampak keinginan atau kesadaran sendiri tidak akan mengulangi perbuatan tsb.

Selain kesepakatan kelas, saya juga memahami profil murid saya, sehingga saya bisa memberikan materi pembelajaran yang menyenangkan tapi bermakna.

Sebagai guru saya berusaha memberikan materi pembelajaran yang menyenangkan bagi mereka, sehingga mereka tidak merasa terbeban, tapi merasa seolah olah dalam permainan yang mengasyikkan.

Akhirnya saya bisa menemukan suasana kelas yang saya bayangkan selama ini, anak anak antusias, semangat, ceria, bahagia dan juga dengan adanya kesepakatan kelas, mereka jadi lebih mandiri dan bertanggung jawab, baik terhadap capaian pembelajaran yang ingin dicapai maupun terhadap kedispilinan mereka dikelas

Dan hasil belajanya jauh lebih meningkat yang bisa saya buktikan waktu kegiatan ujian Mide semester 2 kemaren.Saya memeriksa lembar jawabannya dengan merasa, bahagia dan bangga atas capaian yang telah diperoleh murid murid saya.

Sewaktu saya memasuki ruang kelas, mereka seolah olah tidak sabar lagi menunggu pembelajaran apa lagi yang akan saya berikan. Mereka seperti menunggu sesuatu yang menyenangkan dan takut waktu berlalu, karena waktu usai pembelajaran berbunyi mereka seperti kecewa dan ingin waktunya diperpanjang lagi.

Sebagai guru senyum bisa terukir diwajah, kadang kadang kami candaan…kadang kami hening…kadang kadang kami bersorak…kadang kadang tertawa lepas, suasana kelas terasa hidup, dan keakrabatan terasa kental, seolah olah saya juga merasa seusia mereka, saya bangga dan bahagia berada diantara mereka.

Dan sebagai guru saya juga merasa senang bahagia dan bangga atas capaian belajar murid murid saya.

Hari hari saya sebagai pendidik semakin berwarna, semangat saya muncul kembali, saya sangat bersyukur atas apa yang telah Allah takdirkan pada saya dari jabatan kepala sekolah dan akhirnya ditempatkan menjadi guru kembali.

Akhirnya apa yang saya idam idamkan selama ini dikabulkan Allah, tekat saya yang ingin menciptakan syurga dikelas dan menjadikan murid murid saya mandiri dan bertanggung jawab terhadap capaian pembelajaran yang ingin dicapai akhirnya berangsur angsur terkabul, walaupun mungkin belum sesempurna yang dibayangkan, tetapi Alhamdulillah saya sudah merasakan perubahan yang luar biasa.

Dan sebagai guru saya bertekat akan selalu belajar….belajar…belajar….bagaimana saya bisa melakukaan perubahan pada murid murid saya ke yang lebih baik lagi.

Saya tidak akan pernah merasa puas dan cukup dengan ilmu yang ada, saya siap untukbelajar dengan siapa saja dan dimanaa saja.

Karena saya merasa, guru adalah sosok yang paling banyak bisa mencari pahala, untuk bekal kita diakhirat nanti.

Mengapa tidak kita pergunakan peluang untuk itu……..?

Ayooook…..!

kita bisa tersenyum….tertawa….bersorak….dan bermain bersama, jadikan kehidupan kita lebih berwarna, nikmati sosok seorang guru yang bahagia bersama anak didiknya…..!

Ditangan kita lah nanti mereka yang akan bisa menjadi generasi emas yang berprofil pelajar pancasila yang kita harapkan bersama.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top