Guru Kampung Yang Nggak Kampungan Dengan Menjadi Pelatih

Saya adalah seorang guru SD yang sudah mengajar selama 19 tahun. Dari awal mengajar, saya merupakan seorang guru bantu di sebuah kampung pinggiran sungai Kapuas. Karena akses di kampung yang tidak ada listrik, tidak ada internet membuat saya seperti berada di suatu planet tanpa informasi Pendidikan. Untuk ke kota Sanggau dibutuhkan dua jam perjalanan melalui jalur sungai. Seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai berpikir untuk melanjutkan kuliah S1 saya, karena waktu itu saya hanya berpendidikan D2. Dari mulai kuliah, saya mulai banyak berinteraksi dengan guru-guru di kota dan mulai membuka jejaring dengan berbagai pihak. Setelah saya lolos PNS dan  lulus S1, saya pindah tugas, kemudian mulai mengikuti banyak organisasi. Saya percaya bahwa seorang guru harus terus belajar dan bekolaborasi.

Pada tahun 2015 saya mulai mengenal Komunitas Guru Belajar ( KGB ) dari sebuah acara di TV. Pada waktu itu ibu Najela shihab dan Pak Bukik Setiawan hadir dalam acara kick Andi dan menceritakan impian mereka untuk mengajak guru-guru untuk belajar. Waktu itu dibuka pendaftaran penggerak tiap daerah sebanyak 3 orang. Untuk daerah Sanggau saya mengajak teman saya Juliawati dan  Wanti Sila Sakti.

Tantangan saya pada waktu bergabung di komunitas ini adalah masalah teknologi dan jaringan internet.  Syarat bergabung untuk menjadi penggerak waktu itu dengan bergabung di grup Whatsapp. Dan waktu itu saya tidak punya HP yang canggih untuk mengunduh aplikasi Whatsapp. Beruntung sekali ada Wanti penggerak kami yang suka sekali berselancar dengan dunia medsos dan internet. Saya banyak belajar teknologi dengan Wanti dan Juliawati. Ketika pertama kali ikut TPN tahun 2016 kami bertiga berangkat ke Jakarta. Disini petualangan dengan dunia teknologi dan uji mental dimulai. Saya harus menyesuaikan dengan teman-teman dan kegiatan di TPN yang rata-rata berbasis teknologi. Dari mulai pendaftaran menggunakan link google form, memilih kelas dengan mengirim email, menscan barcode untuk refleksi dan semua menggunakan email aktif. Saya yang awalnya cuek dengan email dan aplikasi-aplikasi suka tidak suka harus belajar memantaskan diri. Dalam sebuah acara persamaan persepsi instruktur kami dituntut untuk dapat menggunakan aplikasi zoom, dari mulai menjadi host, menjadi pemateri dan share screen sampai belajar membuat break out room. Pada waktu itu semua terasa asing buat saya. Saya hanya bisa terdiam. Tapi akhirnya karena saya merasa malu kalau saya sendiri yang tidak dapat mengoperasikan zoom tersebut, akhirnya sampai di daerah asal, saya menemui Juliawati untuk belajar bersama mengoperasikan zoom. Cerita ini mungkin sedikit menggelikan tapi saya rasa bukan saya saja yang mengalami hal seperti ini.

Karir pelatih saya dimulai dari TPN 2016, waktu itu saya dipilih pak Bukik untuk menjadi pembicara di kelas penggerak bersama pak Usman Djabar dan pak Nuno Riza . Pada waktu itu melalui telp saya dihubungi untuk menjadi pembicara, tetapi waktu dihubungi saya kurang paham kelas apa, intinya saya hanya menyanggupi untuk menjadi pembicara. Dari kesempatan pertama saya jadi pembicara bersama pak Usman dan pak Nuno, saya mulai di kenal dan kalangan penggerak KGBN. Berbagai tawaran untuk menjadi narasumber temu pendidik daerah dan TPN mulai berdatangan. Selain menjadi pembicara di tingkat nasional, saya juga sering menjadi pembicara dan pelatih di daerah saya sendiri. Dengan banyak belajar dari modul-modul yang diberikan oleh kampus guru cikal kemampuan teknologi saya lambat laun mulai berkembang. Selain itu saya berusaha belajar dikelas-kelas pilihan yang dapat membantu saya untuk meningkatkan kompetensi saya sebagai pelatih/pembicara. Saya mengetahui bahwa di KGBN kami diberi ruang untuk memilih karier protean sesuai dengan passion masing-masing. Dari sini saya memilih karir pelatih sebagai karir protean saya. Hingga pandemi melanda bagi Sebagian orang merupakan bencana, tapi bagi karir saya merupakan anugerah. Dimasa pandemi saya mencoba tetap bertahan dan berkarya. Saya membagikan praktik mengajar saya dimasa pandemi yang kemudian di sebarkan melalui SKGB edisi Sekolah lawan corona. Hal ini mengantarkan saya untuk menjadi narasumber di berbagai event nasional baik yang diselenggarakan oleh Kemendikbud maupun dari pihak Swasta. Hingga saat ini menjadi instruktur program guru penggerak dan pelatih guru belajar. Seiring dengan banyaknya tawaran untuk manggung menjadi pembicara, saya mulai menerapkan management waktu. Saya harus dapat membagi waktu antara keluarga, tugas mengajar dan kesempatan berkarir. Menjadwalkan belajar di kelas-kelas tertentu dan membaca berbagai referensi agar pengetahuan dan kompetensi saya sebagai pelatih semakin berkembang dan mantap.

Pelajaran yang saya dapatkan dari karir saya sebagai pelatih adalah banyaknya kesempatan belajar, berkolaborasi dan belajar komunikasi (public speaking). Sebelum menentukan jadwal pelatihan yang saya ambil, saya harus memantaskan diri dengan memenuhi otak saya dengan pengetahuan yang relevan dengan tema yang diambil. Kadang-kadang untuk mempersiapkan sebuah pelatihan, saya harus berkorban waktu untuk mewawancara berbagai sumber kemudian saya ajak diskusi untuk menambah referensi kompetensi saya. Saya harus membuat peta konsep untuk memudahkan saya menjelaskan materi. Mencari referensi ice breaking untuk menyegarkan suasana kelas. Banyak hal baru yang saya dapatkan sebagai pelatih. Diantaranya pengetahuan dan jejaring. Saya menjadi banyak kenal dengan teman-teman di seluruh nusantara. “Setelah mengikuti workshop ini saya merasa lebih bersemangat kembali dari sebelumnya dalam hal mengajar dan mendidik siswa saya, muncul banyak ide yang ingin segera saya lakukan bersama murid-murid saya di kelas. Semua ini berkat penyampaian bu Titis yang mudah dimengerti dan menginspirasi “ kata pak Mujiono salah satu peserta workshop implementasi kurikulum merdeka yang diselenggearakan minggu lalu. Tulisan ini saya dapatkan ketika meminta semua peserta untuk memberikan refleksi terhadap cara penyampaian saya dan  insight yang didapat setelah pelatihan. Dari refleksi ini saya dapat mengetahu kekurangan dan kelebihan saya dalam menyampaikan materi. Saya juga menjadi lebih sabar dalam menerima refleksi yang kurang maksimal (menyampaikan kekurangan saya).

Kesempatan tidak datang dua kali, untuk itu jangan lewatkan kesempatan itu.

Ambil peran..

Raih…

Perbanyak belajar dan pantaskan diri kita untuk mengambilnya.

Tidak ada kesuksesan tanpa anak tangga pertama..

Ikuti prosesnya dan terus belajar…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top