Maman Basyaiban

For me, getting my business website made was a lot of tech wizardry things. Thankfully i get an ad on Facebook ragarding commence website. I get connected with BBB team. They made my stunning website live in just 3 days. With the increase demand of online customers. I had to take my business online. BBB Team guided me at each step and enabled me to centralise my work and have control on all aspect of my online business.

Maman Basyaiban
Memposting • 2021-07-01 11:30:22 Kategori : Praktik Baik
Membangun Branding Sekolah & Karier Guru dengan Konten Bermakna di Media Sosial

Spanduk, Leaflet yang Mempromosikan Sekolah, mulai bertebaran di akhir tahun.
Banyak sekolah mengenalkan beragam prestasi muridnya dalam lomba. Bahkan saking banyaknya, daftar lomba mendapat porsi yang banyak dalam leafletnya. Adapula sekolah yang memasang testimoni alumni, yang kini sudah terkenal di bidangnya. Bagi sekolah yang sudah berdiri lama, memiliki murid banyak, tentu punya kesempatan besar mengikuti banyak lomba, juga mendapat testimoni alumni dari alumninya. Lalu bagaimana dengan sekolah yang baru berdiri? Apa yang bisa kita ceritakan ke masyarakat umum?

Kegelisahan ini saya alami ketika mendapat tugas untuk mengenalkan SMP Darul Ikhsan Pekalongan ke masyarakat umum. Bahan-bahan yang sudah ada dan bisa diolah adalah visi misi, fasilitas sekolah, juga profil para pendidiknya, poin yang akhir memang menjadi pembeda besar kami dibanding sekolah lain. SMP Darul Ikhsan yang merupakan sekolah terintegrasi dengan Pondok Pesantren, difasilitasi proses belajarnya oleh para Ulama lulusan dari Yaman. Pondok Pesantren yang sudah berdiri lama juga telah melahirkan banyak Alumni. Namun apa yang bisa diceritakan tentang pembelajaran umum di SMP? Jika fasilitas, maka sekolah lain yang memiliki pendanaan tentu bisa mengadakan fasilitas lengkap pula.

Kegelisahan makin menguat ketika orangtua mulai berdatangan ingin bertanya lebih lanjut berkait proses pembelajaran sebelum berminat mendaftar. Kami para guru lebih banyak bercerita dari sisi pembelajaran agama, kami belum bisa bercerita apa yang berbeda dengan SMP Darul Ikhsan dari sisi pembelajaran umum.

Pembina pondok pesantren Alhabib Mahdi bin Abdullah Alatas kemudian mengajak saya mengelola media sosial. Beliau memberi ide membuat konten berupa faedah dari kitab-kitab berupa nasehat, kutipan maupun petunjuk, yang sebisa mungkin sesuai konteks kebutuhan masyarakat. Misal, saat ramai berita hoax di media sosial, maka kami memposting faedah yang membahas tentang penyebaran berita.


Dari sini saya sering mendapat pelajaran dari beliau, bahwa jika konten itu bermanfaat, insyaallah banyak yang menyebarkan, jadi yang perlu dipikirkan, apakah kontennya memang bermanfaat. Saya bersama guru pondok pesantren, Ustaz Jafar, mulai mengumpulkan faedah-faedah dari berbagai kitab. Ustaz Jafar sebagai penerjemah dari Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia, lalu saya membuat redaksi Bahasa Indonesia yang sekiranya mudah dipahami orang awam. Agar semakin menarik, saya juga membuat desain visualnya.

Belajar dari aktivitas pembuatan konten faedah ini, saya mengaitkannya dengan apa yang dilakukan Komunitas Guru Belajar Pekalongan, para guru saling bercerita tentang pembelajaran di kelasnya. Saya pun terpikir untuk mulai mengajak para guru di SMP Darul Ikhsan bercerita, dan saya jadikan konten media sosial. Mulailah saya merumuskan rubrik apa yang bisa muncul, misal Ustaz Dasuki yang mengampu pelajaran bahasa Inggris, selain bercerita tentang pembelajaran di kelasnya, juga membagikan idiom/nasehat dalam bahasa inggris. Saya sendiri yang saat itu mengampu Bahasa Indonesia, membagikan konten penulisan yang baku. Agar semakin menarik kadang kami juga membuat konten parodi, seperti rubrik Ustaz Danil 1991, yang merupakan plesetan Dilan 1990, hingga parodi poster film Avenger Infinity War untuk memperingati Hardiknas. Harapannya orang-orang melihat bahwa pengalaman belajar yang dibangun di SMP Darul Ikhsan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna.

Gayung bersambut, beberapa konten kami dishare oleh para alumni, apalagi ketika parodi Avenger guru pondok bercerita, para alumni banyak yang share. Orangtua murid kadang berkomentar di post cerita pembelajaran. Post cerita pembelajaran kami juga dibahas di grup whatsapp Komunitas Guru Belajar, saya pun diajak untuk menjadi narasumber Temu Pendidik Daerah KGB Pekalongan membawakan topik pembelajaran dengan board game yang pernah dipost di media sosial.

Semacam menjadi “reaksi berantai”, praktik baik yang awalnya dibahas sebagai cerita pembelajaran di SMP Darul Ikhsan, menjadi inspirasi bagi para guru KGB Pekalongan memanfaatkan board game di kelasnya masing-masing. Dampak berbagi praktik baik ini diolah pula oleh Pak Rizqy Rahmat Hani, menjadi konten baru di media sosialnya. Kemudian diceritakan ulang oleh Boardgame.id (Silakan baca: Keren! Komunitas Guru di Pekalongan Mulai Semangat Membuat Board Game https://boardgame.id/komunitas-guru-pekalongan-board-game/ ).

Bagai bola salju yang terus menggelinding dan membesar, cerita ini sampai ke lingkaran teman saya bermain game, ia menceritakan trend board games di KGB Pekalongan ke Komunitas Board Games Solo. Hingga kabar ini terdengar oleh salah satu orang di komunitas tersebut, Pak Aryo, yang merupakan pengurus yayasan pondok pesantren. Saya dan Ustaz Dasuki pun mendapat kesempatan menjadi narasumber pemanfaatan board game di Pondok Pesantren Sabilurrasyad, Kendal, Jawa Tengah (Silakan baca: Serunya Mengenalkan Board Game Kepada Guru, Ustadz dan Pamong Santri di Kendal – Jawa Tengah di https://boardgame.id/guru-uztadz-main-board-game-kendal/).

Fenomena ini membuat saya kemudian berkesimpulan, ternyata berbagi praktik baik membuat guru mengembangkan karier sebagai narasumber. Ternyata simpulan saya tidak lengkap!. Saat pembukaan pendaftaran murid berikutnya, orangtua yang datang hendak mendaftarkan anaknya membahas tentang apa yang kami post di Instagram. Adapula calon murid yang sudah paham bahwa belajar di Darul Ikhsan juga memakai beragam cara. Saya tidak menyangka ternyata berbagi praktik baik di media sosial bisa berdampak sejauh ini!. Apa yang sudah dilakukan membantu masyarakat semakin mengenal SMP Darul Ikhsan, bahkan menjadi promosi dengan nilai tersendiri. Post kami di media sosial membuat orangtua murid menjadi tahu, proses pembelajaran seperti apa yang dialami anaknya. Alih-alih sekadar memajang foto piala di media sosial, yang tidak bisa menggambarkan proses pembelajaran, dan hanya menunjukkan raihan kompetisi segelintir murid.

Saya pun kembali berefleksi, jika cerita di medsos yang sifatnya searah saja, dampaknya bisa besar. Bagaimana jika dibangun interaksi seperti di kelas? Sehingga follower di media sosial bisa turut kami ajak belajar. Maka kami mulai membuat konten-konten sederhana berupa pertanyaan membandingkan, seperti Apa perbedaan berpikir dengan mengingat? Mana penulisan yang tepat Insyaallah atau Insya Allah? Bahasa asing mana yang kamu ingin kuasai lebih dulu? Bahasa Inggris atau Bahasa Arab? Apa alasannya? Konten seperti bahkan membuat akun instagram sebuah SD Pekalongan ikut berkomentar. Senang rasanya bisa menyebarluaskan apa yang terjadi di kelas SMP Darul Ikhsan, ke media sosial.

Silakan follow saya di instagram.com/mamanbasyaiban #GuruNgegame dan SMP Darul Ikhsan Pekalongan di instagram.com/smpdarulikhsan

Screenshoot Post instagram SMP Darul Ikhsan

Topik :

1 Orang menyukai cerita ini
 
Leave a Comment:
Maman Basyaiban

Coba berkomentar yuk

Maman Basyaiban

Coba berkomentar yuk

Ari Wibowo

wah cerita yang menarik jadi penting banget untuk membangun interaksi dua arah tidak hanya di ruang kelas tapi juga di sosial media.