Maman Basyaiban

For me, getting my business website made was a lot of tech wizardry things. Thankfully i get an ad on Facebook ragarding commence website. I get connected with BBB team. They made my stunning website live in just 3 days. With the increase demand of online customers. I had to take my business online. BBB Team guided me at each step and enabled me to centralise my work and have control on all aspect of my online business.

Maman Basyaiban
Memposting • 2021-07-01 11:22:11 Kategori : Praktik Baik
Literasi dengan Permainan Papan

“Pak, di pelajaran bapak nanti main gim saja ya.”

“Pak, kapan kita boleh main komputer?”

Pernahkah Anda mengalami ini? Murid seperti lebih antusias untuk bermain gim, daripada menjalankan aktivitas belajar seperti biasa.

Saat kegiatan pembelajaran mata pelajaran TIK, murid saya sering meminta izin untuk diperbolehkan bermain gim, saya melihat ini sebagai curhatan anak yang bosan dan jauh dari hiburan yang biasa mereka lakukan ketika di rumah. Menjadi Guru pada sebuah SMP Boarding School yang baru memasuki tahun pertamanya adalah pengalaman baru bagi saya waktu itu. Meski sebagai lulusan Teknologi Pendidikan diberi amanat untuk mengampu beberapa mata pelajaran selain TIK, di antaranya dan Bahasa Indonesia. Dari tanggung jawab ini, saya mempelajari kompetensi yang ditargetkan bagi murid kelas 7. Sekolah yang merupakan Boarding School, memiliki murid dari beragam daerah baik dari kota besar maupun daerah, dari sekolah "favorit" hingga yang belajar di sekolah satu atap, dan tentunya mereka melalui proses belajar yang berbeda pula selama menempuh pendidikan sekolah dasar.  Berdasar hasil pretest pendaftaran masuk murid, nilai rapor, dan obrolan dengan orang tua tentang bagaimana proses dan hasil belajar anak-anak ketika SD, kami menyimpulkan bahwa beberapa murid memiliki perbendaharaan kata lebih banyak, sedangkan beberapa murid yang lain perlu perbendaharaan kata yang lebih. Keadaan ini menjadi pertimbangan bagi saya untuk menyusun aktivitas belajar yang dapat mengakomodir murid, sesuai kebutuhan murid, dan tetap menantang bagi semua. Pada awalnya saya hanya berpikir bahwa menyajikan berbagai kata dalam bentuk kartu untuk anak-anak kategorikan akan membantu mereka memperoleh kata yang digunakan dalam mengumpulkan informasi dan menyusun teks, namun tetap saja saya seperti belum membantu mereka menggunakan kata-kata yang diperoleh dengan baik. Kosakata yang murid gunakan masih cenderung berulang dan terbatas sehingga dalam pembelajaran teks deskriptif sebenernya masih ada ruang eksplorasi bagi murid untuk menggambarkan apa yang mereka lihat dengan kata-kata yang lebih beragam.

Berangkat dari hal tersebut saya belajar dan mencari tahu cara mengemas kegiatan yang tak hanya menambah perbendaharaan kata namun sekaligus berliterasi sekaligus menyenangkan untuk topik pembelajaran berikutnya, yakni Mengkreasikan Fabel. Dalam mengkreasikan fabel murid kembali menemui tantangan untuk menyusun kalimat menggunakan kata yang bersifat umum khusus untuk mendeskripsikan latar tempat, latar waktu, maupun penokohan karakter. Saya ingat memiliki rekan yang pernah mengikuti pelatihan game design dan tengah menggeluti permainan papan (board game), Herlambang Wicaksono, mencari kemungkinan permainan papan dapat memenuhi kebutuhan belajar anak-anak. Saya berkonsultasi kepada beliau, menanyakan adakah permainan papan yang sesuai dengan tujuan belajar, memperbanyak perbendaharaan kata terutama kaitan antara kata umum dan khusus serta penggunaannya, dan melatih membaca situasi serta permasalahan yang penyelesaiannya dengan bahasa. Dari proses itu saya juga mulai belajar bagaimana proses menyusun permainan papan sesuai dengan tujuan dan tema  yang ingin diangkat. Beberapa judul gim muncul, dan bisa dimodifikasi untuk menyesuaikan, salah satunya Codenames.

Mengapa akhirnya saya memilih permainan ini? Dalam bermain pemain diharuskan mempelajari terlebih dahulu cara bermain karena permainan tidak bisa berjalan secara otomatis. Cara bermain bisa dipelajari melalui buku peraturan maupun dijelaskan oleh pemandu, pemandu permainan pun perlu menggunakan kemampuan membangun narasi untuk memperkuat tema permainan. Dalam Permaianan papan Codenames pemain harus mengumpulkan agen rahasia yang tersembunyi dibalik kata, dengan menggunakan kata kunci kreasi sendiri sambil menghindari penjahat, sehingga untuk mencapai tujuan gim, pemain perlu membangun kemampuan membaca dan mengaitkan situasi papan permainan dengan panduan agen dengan sandi mana saja yang harus dipilih. Lebih jelasnya, dalam gimpemain bertindak sebagai 2 tim agen rahasia, tim merah dan biru, 2 orang pemain akan bertindak sebagai seorang master agen yang memimpin masing-masing tim dan memberikan 1 kata sebagai sandi rahasia, pemain dalam tim merah yang lain harus menemukan agen merah yang bersembunyi dengan mengaitkan sandi rahasia dengan kata-kata yang disebar pada papan permainan, begitupula pada tim biru. Panduan bermain gim ini juga dapat dipelajari di bit.ly/CaraMainCodenames

Gim ini membutuhkan kolaborasi dalam bermain, maka kosakata yang digunakan oleh satu murid juga dapat menjadi perbendaharaan baru bagi yang lain, sehingga turut mempengaruhi pembiasaan penggunaan kata khusus dan umum pula. Memilih tantangan dan pengambilan keputusan merupakan hal yang sering dialami saat bermain codenames ini. Gim ini saya modifikasi dengan memasukkan kosakata yang lebih dibutuhkan oleh murid.

“Apakah akhirnya anak hanya mempelajari kosakata yang saya tulis?”

Tidak, karena Master Agen akan menggunakan kata lain yang tidak tertulis namun berkaitan dengan kata yang disebar. Kata-kata yang muncul dalam gim ini akan membiasakan murid dalam menentukan kata khusus dan umum yang sesuai.

Contoh : Tim Agen Merah harus mencari agen dengan kode ‘mengantuk’, ‘apel’, dan ‘sungai’. Sedangkan Tim Agen Biru mencari agen dengan kode ‘roda’, ‘laut’ dan ‘Anggur’. Penjahat bersembunyi dibalik kata ‘hujan’. Master Agen Tim Merah bisa menyebutkan Sandi ‘meralip’ agar para agen memilih ‘mengantuk’, namun Master tidak bisa menggunakan kata ‘buah’ karena bisa saja anggota timnya malah memilih ‘anggur’ daripada ‘apel’. Untuk kata ‘sungai’ dan ‘laut’ kedua Tim tidak bisa menggunakan kata ‘air’, alih-alih memilih kata tadi mereka bisa terjebak bertemu penjahat. Master Agen Tim Merah harus menggunakan diksi yang lain sebagai kata sandi, misal ‘muara’ untuk ‘sungai’, dan ‘ponse’ untuk ’apel’.

Meski begitu muncul anggapan bahwa penggunaan codenames ini saja tidak cukup, beberapa kegiatan, mulai dari menganalisis status Facebook orang, hingga post instagram @badanbahasakemendikbud saya ramu menjadi rangkaian kegiatan untuk mendukung proses belajar menyusun Narasi Fabel. Secara urutan aktivitas maka rangkainnya seperti berikut 

  1. Memanfaatkan status facebook rekan saya, agar murid-murid tertarik saya ceritakan pula tentang bagaimana saya bersosial dengan orang tersebut, murid boleh menanyakan kata atau kalimat apa yang belum dipahami di status yang disajikan
  2. Kami diskusikan atau cari di KBBI kbbi.kemdikbud.go.id tentang maknanya.
  3. Akun Instagram.com/badanbahasakemendikbud sebagai sumber belajar kata baku dan tidak baku.
  4. Board Game codename menjadi sarana anak bisa menggunakan perbendaharaan kata menjawab tantangan menggunakan kata yang bersifat umum khusus untuk
  5. mengkreasikan kalimat.

Melalui beragam kegiatan tadi, murid mendapat bekal untuk merangkai cerita fabel secara berkelompok. Pada proses penyusunan cerita ini, saya dan murid mendiskusikan apa yang mungkin bisa ditingkatkan dari segi cerita maupun pemilihan kata, misal karena terbiasa menemukan pasangan kata umum dan khusus dari permainan papan codenames murid tidak hanya sekadar mengatakan Si Kelinci nakal, namun juga menyebutkan kata yang lebih khusus sebagai sifat yang lebih jelas apakah jahil, suka meremehkan orang lain?, mendeskripsikan latar tempat misal sungai dengan lebih rinci. “Seperti apa sungainya, apakah besar?”. Murid juga bisa mengurangi penggunaan kata berulang yang cenderung membuat bosan, misal untuk menjelaskan kondisi spesifik tokoh yang mengantuk peserta didik dapat menggunakan kata meralip, daripada terus mengulang kata mengantuk. Karena murid-murid juga ada yang bercita-cita menjadi pendakwah, saya memantik, bahwa bekal kita belajar Bahasa Indonesia yang sudah kami lakukan dapat mendukung proses dakwah. 

Sebagai kegiatan akhir, murid menyajikan dan memerankan karakter dalam fabel dengan media pop up. Murid secara bergantian menyajikan cerita, menggunakan pop up sebagai latar, boneka jari/wayang hewan dari kertas, kami saling mengapresiasi murid yang maju. Aktivitas yang kami beri nama “Darul Ikhsan Berbakat” ini juga menjadi sarana latihan dan memberi kesempatan bagi semua murid melakukan story telling di depan kelas.

Topik : Strategi Pembelajaran

2 Orang menyukai cerita ini
 
Leave a Comment:
Ari Wibowo

jadi dapet ide untuk menggunakan media game untuk bahan mengajar ni Mas Maman

Ari Wibowo

menunggu cerita berikutnya mas Maman

Ari Wibowo

menunggu cerita berikutnya mas Maman

Ari Wibowo

menunggu cerita berikutnya mas Maman