Maman Basyaiban

For me, getting my business website made was a lot of tech wizardry things. Thankfully i get an ad on Facebook ragarding commence website. I get connected with BBB team. They made my stunning website live in just 3 days. With the increase demand of online customers. I had to take my business online. BBB Team guided me at each step and enabled me to centralise my work and have control on all aspect of my online business.

Maman Basyaiban
Memposting • 2021-07-01 11:56:57 Kategori : Praktik Baik
Komunikasi Memahami untuk Menyelesaikan Persoalan Ngompol

2018 ini merupakan tahun kedua bagi sekolah kami yang baru berdiri pada tahun pelajaran 2016/2017. Tiap awal pergantian tahun pelajaran adalah proses adaptasi peserta didik baru dengan lingkungan dan teman baru. Karena sekolah kami terintegrasi dengan Pondok Pesantren kedatangan peserta didik baru berarti menyiapkan diri untuk segera menyatukan dan menyamankan peserta didik menjadi “keluarga serumah” dengan latar belakang yang beragam, karena meskipun beragama sama tapi anak-anak yang hadir berasal dari daerah yang tidak sama, berlogat berbeda, kebiasaan yang beraneka sehingga bisa muncul kesalahpahaman karena perbedaan dalam pemaknaan terhadap kosakata yang berbeda. Diberi amanat sebagai wali kelas 7A, saya juga mendapat titipan pesan oleh bebarapa wali santri tentang kondisi anaknya yang masih perlu belajar mengatur waktu buang air kecil, agar saat tidur tidak mengompol. Jadi PR bagi saya mengeluargakan anak-anak dan memberikan perhatian khusus terhadap tiga anak yang masih mengalami “kasur basah”. Sebagai wali kelas saya bekerjasama dengan Ustaz pondok sebagai pendamping kamar dalam mengerjakan PR ini.

Demi memudahkan kontrol pendamping malam untuk membangunkan, kami menyatukan tiga anak dengan kondisi sama di kamar 7A, sambil tetap merahasiakan dari anak lain tentang pesan khusus para wali santri ini. Pada hari-hari awal, tiga anak tadi kami bangunkan di tengah malam, namun suatu pagi karena susah dibangunkan, didapati tiga buah kasur dalam keadaan basah. Masalah yang muncul bukan tentang bagaimana kasur dikeringkan, akan tetapi peserta didik lain kejadian ini mulai dijadikan sebagai bahan obrolan, dan “bermain kata”. Tiga anak mulai tidak nyaman, hingga akhirnya salah satu kabur. Sebut saja anak ini si A, sejak dua hari berturut-turut mendapat akumulasi tiga permasalahan, dari “kasur basah”, sulit tidur, dan dituduh mengambil uang temuan, belum mau kembali ke pondok di hari yang sama karena takut kembali dikerjai.

Saya berusaha melakukan obrolan dengan anak yang kabur Meski sudah berdiplomasi sambil bermain board game Jenga dan sudah keluar suara tawa namun sang anak belum mau membuka mulut. Akhirnya, diri memutuskan mencoba mengajak berbiacara dengan seluruh keluarga 7A, saya melempar pertanyaan “Ada yang ingat bagaimana pertama kali kita belajar naik sepeda?”, ternyata anak-anak antusias membahas hal ini. Secara bergantian saya dan beberapa anak menyampaikan “kekonyolan” kami saat belajar naik sepeda, jatuh, terperosok, menabrak orang dan lain-lain. Saya beri jalur bahasan kami ini, bahwa setiap orang butuh proses belajar. Saya pun mengaku pernah mengompol sampai kelas 5 SD, benar-benar bebas dari “kasur basah” ketika menginjak SMP kelas atas, akhirnya Si B salah satu dari tiga anak mengakui tanpa malu tentang dirinya yang juga masih mengompol, kami semakin terbuka di malam itu. Pinta maaf saya sampaikan di depan anak kelas 7A karena merasa kurang banyak punya waktu “bermain” bersama. Dalam posisi duduk melingkar kami menyepakati untuk merangkul teman yang masih belajar mengatur waktu buang airnya, bantu menjemur kasur jika memang “terlanjur basah”, menghindari tuduh-menuduh, dan menjaga kondisi kamar bersama agar anggota keluarga yang lain merasa nyaman saat belajar atau istirahat di dalam kamar.

Si B saya ajak untuk kembali membujuk anak yang “pulang”, kami awali dengan bermain board games Kakak Teladan, di game  ini kami diharuskan mengingat-ingat pesan dari orang tua. Setelah dirasa sang anak sudah mulai ikut membangun suasana games yang seru, saya mulai membuka pembicaraan tentang obrolan dan kesepakatan kelas 7A semalam, mengajaknya juga mengingat kembali kejadian yang lalu untuk kita perbaiki. Si B sebagai anak yang juga memiliki kondisi serupa juga ikut memberikan ajakan agar si A turut membuat keseruan bersama di Pondok.Hari itu Si A tidak langsung ingin pulang, namun keesokan harinya pihak keluarga mengantarnya kembali ke bersekolah. Sebagai penyambutan telah kembalinya keluarga satu kamar, kami kembali bermain Board Game Jenga. Karena Si A sudah lebih dulu mencicipi game ini, dia tampak sangat percaya diri menarik satu demi satu Jenga. Kami melakukan refleksi bahwa balok Jenga yang berwarna- warni diibaratkan beragam hal yang ada di antara kita keluarga kelas 7A. Jika muncul satu masalah, maka kita perlu menyelesaikannya dengan hati-hati, seperti saat menarik balok Jenga. Masalah harus bisa “hilang” namun tanpa meruntuhkan kekeluargaan, seperti Jenga yang tetap harus dijaga agar tidak ambruk. Setelah melalui kasus ini, kami lebih terbuka tentang kekurangan masing-masing, peserta didik kelas 7A juga lebih mau berbicara apabila menemui masalah. Anak yang masih dalam tahap belajar lepas dari “kasur basah” tampak meningkatkan kepercayaan dirinya, kembali membaur.

Topik : Manajemen Kelas

0 Orang menyukai cerita ini
 
Leave a Comment: