Carla Adi Pramono

For me, getting my business website made was a lot of tech wizardry things. Thankfully i get an ad on Facebook ragarding commence website. I get connected with BBB team. They made my stunning website live in just 3 days. With the increase demand of online customers. I had to take my business online. BBB Team guided me at each step and enabled me to centralise my work and have control on all aspect of my online business.

Carla Adi Pramono
Memposting • 2021-08-18 13:35:32 Kategori : Liputan
Kolaborasi Guru untuk Pembelajaran yang Lebih Dalam

Kasihan melihat murid yang di-drill sebelum ujian?  Drilling berarti melatih murid secara terus-menerus untuk mencapai target nilai yang ditentukan. Akibatnya, murid bisa mencapai nilai yang tinggi, tetapi informasi yang menjadi bahan ujian langsung menguap sesaat setelah mereka keluar dari ruang ujian. Di antara Bapak dan Ibu Guru mungkin telah menyadari bahwa drilling tidak berdampak baik, tetapi sulit untuk mengubahnya karena sekolah dan rekan guru lain fokus pada pencapaian nilai yang tinggi. Bagaimana sih mengajak sekolah dan rekan guru untuk mengubah cara pandang ini? Lebih baik fokus pada pencapaian nilai atau penguasaan kompetensi? Lalu, adakah strategi asesmen yang bisa membuat murid senang belajar?

Pertanyaan-pertanyaan di atas dijawab secara langsung oleh dua orang narasumber pada Obrolan Guru Merdeka Belajar pada tanggal 3 Agustus 2021. Narasumber pertama adalah Bu Nia, seorang guru kelas 6 SD di sekolah Pandu. Beliau merupakan salah satu peserta program induksi sekolah yang diadakan Kampus Guru Cikal dan Sekolah Merdeka Belajar. Narasumber kedua adalah Pak Joko. Beliau mengajar PAUD di Sekolah Islam Umar Harun. Serupa dengan Bu Nia, Pak Joko pernah menjadi peserta pada program yang diadakan Kampus Guru Cikal, yaitu program Siap AN. Dalam obrolan yang dipandu oleh moderator Bu Sari dari Sekolah Merdeka Belajar, Bu Nia dan Pak Joko berbagi tidak hanya informasi yang didapat dari program yang diikuti, tetapi juga praktik baik mereka di sekolah masing-masing. 

Mengawali obrolan, Bu Nia dan Pak Joko mengutarakan makna asesmen bagi mereka. Bagi Bu Nia, asesmen merupakan kesempatan bagi murid untuk menampilkan kemampuan mereka. Tidak hanya bermanfaat bagi murid, Pak Joko menambahkan bahwa hasil asesmen dapat diolah guru untuk mengevaluasi strategi pembelajaran mereka. Lebih lanjut, keduanya pernah memiliki miskonsepsi terhadap asesmen. Secara umum, miskonsepsi yang terjadi adalah orientasi pada nilai sehingga melakukan drilling kepada murid. Miskonsepsi ini tidak hanya diyakini oleh guru, tetapi juga oleh kepala sekolah dan orang tua murid. Sebagai akibat dari miskonsepsi tersebut, sekolah, khususnya guru, lebih terpacu untuk memenuhi aspirasi orang tua dan mengabaikan kepentingan murid. 

Belajar Bukan Selalu Tentang Nilai

Sesuai dengan pertanyaan akun I W pada kolom komentar, bagaimana kemudian mengubah cara pandang dari asesmen berorientasi nilai menjadi asesmen berbasis kompetensi? Bagaimana pula menjawab orang tua yang kerap menanyakan ranking anaknya? Berdasarkan pengalamannya, Bu Nia menekankan pentingnya sosialisasi secara berkelanjutan. Menjelaskan dan memberikan bukti manfaat dari asesmen berbasis kompetensi membantu sekolah dan orang tua untuk memahami hal tersebut. Di sekolah Pak Joko, penekanan pada penguasaan kompetensi dijelaskan kepada orang tua saat awal tahun ajaran. Di PAUD yang diajar Pak Joko, murid tidak dipaksa untuk bisa calistung, tetapi lebih fokus pada aspek perkembangan yang sesuai dengan usia anak. 

Bu Nia dan Pak Joko menjabarkan pula apa yang dirasakan setelah mereka sendiri mengubah miskonsepsi yang dimiliki serta mengaplikasikan asesmen berbasis kompetensi. Refleksi ini merupakan reaksi dari komentar JC Pramudia Natal. Keduanya merasa makin lebih mengenal murid. Tidak hanya itu, murid juga dinilai belajar lebih mendalam. Bila sebelumnya murid hanya menghafal untuk ujian, sekarang murid menjadi lebih paham dengan apa yang dipelajari. Jika kemudian murid ditanya kembali setelah ujian berlangsung, murid masing mengingat materi karena mereka paham. Bagi Bu Nia yang mengajar di kelas 6 SD, pemahaman ini membantu para murid untuk belajar di jenjang selanjutnya.

Siapa yang Dapat Diajak Berkolaborasi?

Apakah proses asesmen dapat dilakukan secara berkolaborasi? “Bentuk asesmennya seperti apa?”, tanya Antonius Mojo pada kolom komentar. Pertanyaan tersebut dijelaskan melalui pengalaman yang dilakukan Pak Joko di sekolahnya. Bersama guru di jenjang SD, beliau mengadakan pasar anak. Bagi murid di jenjang SD, mereka dapat mempelajari mengenai mata uang, jual-beli, dan konsep lainnya. Bagi murid PAUD, mereka didorong untuk bisa memilih dan konsisten pada pilihannya. Murid PAUD juga diajarkan untuk antre dalam kegiatan tersebut. Dari pengalaman tersebut, tidak hanya dalam proses asesmen, kolaborasi pun dapat diterapkan dengan mengajak guru mata pelajaran lain dan murid dari jenjang yang lebih tinggi. “Mengajak murid dari jenjang yang lebih tinggi untuk berbagi ke adik kelas dapat digunakan untuk pemahaman karakter”, jelas Bu Nia.

Bila kegiatan pasar anak merupakan contoh kolaborasi dalam proses asesmen sebelum pandemi berlangsung, Bu Nia menjelaskan bahwa kolaborasi tetap dapat berlangsung pada masa pandemi. Beliau menceritakan kolaborasi dengan orang tua saat melakukan asesmen terhadap muridnya. Saat presentasi melalui media digital berlangsung, orang tua dilibatkan sebagai penonton yang mendapatkan penjelasan dari murid akan karya yang mereka buat. Pengalaman ini ternyata membantu orang tua makin mengenali anaknya. Beberapa orang tua awalnya tidak menyangka jika anaknya mempunyai keberanian melakukan presentasi di depan banyak orang. Pak Joko menambahkan bahwa orang tua merasa senang ketika bisa ikut serta dalam proses belajar anaknya. Artinya, peluang kolaborasi sebenarnya terbuka luas bagi guru meski diakui Pak Joko dan Bu Nia tidak mudah untuk memulainya. 

Pak Joko dan Bu Nia sudah menceritakan praktik baik mereka di sekolah. Kolaborasi, menurut mereka, dapat memberikan tantangan baru bagi guru. Namun, tidak hanya murid yang senang, tetapi guru dapat makin mengasah kompetensi sebagai pendidik dengan berkolaborasi. Orang tua pun bersemangat saat terlibat dalam proses belajar anaknya. Apakah Bapak dan Ibu tergugah untuk melakukan kolaborasi, baik dalam pembelajaran maupun asesmen? Atau berniat mengajak orang tua murid untuk berpartisipasi pada proses belajar anak mereka? Bila Bapak dan Ibu Guru melewatkan atau ingin melihat kembali Obrolan Guru Merdeka Belajar “Perencanaan Asesmen dan Pembelajaran secara Kolaboratif”, Bapak dan Ibu Guru dapat menyaksikan di tautan berikut ini: https://youtu.be/C0NxPgQGoqQ

Topik : Guru Merdeka Belajar

3 Orang menyukai cerita ini
 
Leave a Comment:
Maman Basyaiban

Keren Bu Carla

Fatrica Ivana

Wuaaah