Bukik Setiawan Kecewa Guru Tidak Dianggap Sebagai Subjek Yang Berdaya

Mataharikecil Foundation menggelar talk show dengan topik “Optimalisasi Peran Guru Menghadapi Learning Loss Pasca Pandemi yang Berdampak pada Mutu Kualitas Pendidikan di Indonesia”. Talkshow yang diadakan pada Sabtu (29/10/2022) ini mengundang Bukik Setiawan, ketua Yayasan Guru Belajar dan Indra Charismiadji selaku pemerhati pendidikan.

Bukik Setiawan mengungkapkan, learning loss di Indonesia terjadi jauh sebelum masa pandemi. Pandemi memperburuk keadaannya terutama aspek ketimpangan. Pandemi membuat anak-anak rentan mengalami learning loss jauh lebih buruk karena keterbatasan sistem pendukung dalam bentuk pendampingan orangtua, media belajar maupun teknologi. 

“Sebelum masa pandemi, learning loss dialami oleh semua murid. Selama pandemi yang terjadi ketimpangan luar biasa antara kelas menengah ke atas dan anak-anak marjinal. Selama pandemi, anak yang berasal dari kelas menengah ke atas memiliki orang tua yang dapat mendampingi mereka belajar. Sebaliknya, anak dari keluarga menengah ke bawah sistem pendukungnya belajarnya hilang,” terangnya.

Untuk mengatasi learning loss, Bukik menyebutkan dua hal yang dapat dilakukan. Pertama adalah penghapusan Ujian Nasional (UN) yang secara resmi telah ditiadakan pada tahun 2021. Dia menuturkan, rezim UN yang berkuasa selama 20 tahun terakhir mendorong perilaku belajar murid hanya untuk mengerjakan tes bukan untuk mencapai kompetensi tertentu.

Kedua, menyederhanakan materi pembelajaran. Bukik mengungkapkan, sudah banyak riset yang menunjukkan bahwa beban belajar murid Indonesia terlalu banyak. Korbannya tidak hanya murid, tapi juga guru hingga dinas pendidikan.

Dinas pendidikan tidak memiliki cukup kesempatan melakukan pengembangan kurikulum akibat beratnya beban kurikulum yang ada. Tingkat stres guru tinggi karena harus mengejar ketuntasan materi hingga mengatrol nilai murid demi kriteria ketuntasan minimal (KKM). Mereka juga harus segera beralih materi pelajaran meskipun murid belum menguasai materi sebelumnya.

“Kita di sini juga pernah merasakan ya. Bagaimana rasanya jadi murid SMA, SMP, SD. Belajar banyak hal tapi tipis-tipis, hanya permukaannya saja,” kata Bukik.

Bukik juga mengingatkan pentingnya pelibatan guru dalam berbagai forum pendidikan. Dia mengungkapkan, seringkali ekosistem pendidikan tidak menempatkan guru sebagai seorang yang berdaya dalam mewujudkan praktik pendidikan yang berpihak pada anak. 

“Guru bagaimanapun adalah yang berinteraksi dengan murid. Siapapun menterinya, apapun kurikulumnya, siapapun dinas pendidikan, yang dihadapi oleh murid adalah gurunya. Apapun yang terjadi, guru bisa mempengaruhi bagaimana murid bertumbuh dan berkembang,” tegas Bukik.

Sedangkan Indra Charismiadji menuturkan, penyelesaian learning loss memang merupakan proses yang panjang. Perlu memperkuat bagaimana agar anak memiliki minat baca. Minat baca perlu dimulai dari orang tua dan gurunya.

Sebelumnya, ia mengungkapkan, hasil riset OECD tahun 2021 menunjukkan tingkat literasi masyarakat Indonesia yang sangat rendah. Dia menjelaskan, dalam riset tersebut bahkan bangsa Indonesia tidak bisa membedakan antara fakta dan opini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top