Asyiknya Belajar Cause Effect Melalui Observasi Lingkungan Sekolah

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Berdasar pada filosofi tersebut, dalam menjalankan peran kita sebagai guru kita harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan bermakna bagi murid-murid kita. Pembelajaran yang kontekstual, tidak semata mempelajari teori yang nanti akan mereka lupakan, pembelajaran yang berpusat kepada murid dimana mereka terlibat secara aktif dalam proses awal sampai akhir. Pembelajaran sedapat mungkin sesuai dengan kodrat zaman anak kita sekarang, apalagi untuk mata pelajaran Bahasa asing yang pada umumnya tidak menjadi mata pelajaran favorit di sekolah kami padahal kita tahu bersama bahwa penguasaan bahasa asing khususnya bahasa Inggris adalah salah satu kebutuhan hidup di zaman sekarang. 

Membelajarkan Bahasa Inggris memiliki tantangan tersendiri. Sebahagian besar murid di sekolah kami berpendapat bahwa Bahasa Inggris itu sulit untuk dipelajari. “Aduh bu, saya tidak tahu apa Bahasa Inggrisnya dan bingung bagaimana cara membacanya, mana lagi strukturnya terbalik-balik”. Keluhan seperti ini terasa seperti nyanyian yang hampir setiap waktu terdengar dari para murid. Mereka merasa kesulitan sehingga agak enggan untuk mempelajarinya. Selain itu pembelajaran yang terus menerus dilakukan didalam ruangan membuat peserta didik menjadi bosan dan merasa sulit untuk mendapatkan ide untuk mengembangkan pemahamannya terhadap materi yang sedang dipelajari. Pada mata pelajaran Bahasa Inggris kelas XI, terdapat kompetensi dasar Cause and Effect Relationship yang menekankan pada kemampuan murid untuk memberi dan meminta informasi terkait hubungan sebab akibat. Pada pembelajaran sebelumnya saya meminta refleksi dari murid, beberapa diantaranya meminta untuk sesekali melakukan pembelajaran diluar kelas. Nah, ini moment yang tepat menurut saya untuk membawa murid keluar kelas dan mengobservasi lingkungan sekolah.

Lingkungan merupakan media pembelajaran realita atau media nyata  (real thing) dan pemanfaatan media ini bisa dilaksanakan dengan melihat langsung atau observasi keadaan atau benda yang ada di sekitar. Pembelajaran berbasis lingkungan ini memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar yang membimbing peserta didik untuk menghubungkan pengetahuannya dengan kehidupan sehari-hari. Dalam mengajarkan materi cause and effect relationship, sebagai langkah pembelajaran pertama pada materi ini, sebelum murid melakukan observasi lingkungan sekolah terlebih dahulu kami melakukan proses belajar didalam kelas yakni berdiskusi tentang social function, language structure, dan language features dari materi cause and effect. Pembelajaran dilakukan menggunakan presentasi sederhana yang dilakukan oleh beberapa kelompok yang kemudian diikuti dengan tanya jawab. Kelompok sudah dibentuk sebelumnya sehingga murid memiliki persiapan dan juga mereka melatih diri untuk melakukan presentasi sederhana meskipun masih menggunakan campuran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.

Setelah murid mendapatkan pemahaman tentang materi tersebut, pada pertemuan berikutnya sebelum keluar kelas, kami membuat kesepakatan kelas seperti melakukan observasi dengan sungguh-sungguh sesuai alokasi waktu yang telah disepakati dan terutama untuk tidak mengganggu proses pembelajaran yang sedang berlangsung di kelas lain. Maklumlah murid-murid biasanya iseng untuk menengok kelas-kelas yang dilewatinya sambil mengganggu teman-temannya. Mereka juga harus membawa kamus agar mereka tidak kesulitan ketika menemukan kata yang asing baginya. Targetnya cukup sederhana, mereka mampu menyusun beberapa kalimat yang menunjukkan hubungan sebab akibat berdasarkan hasil observasi objek-objek yang mereka lihat dan amati di lingkungan sekolah.

Sesuai kesepakatan, murid memiliki waktu tiga puluh menit untuk berkeliling mengamati lingkungan sekolah yang menghasilkan ide untuk membuat kalimat cause and effect dan mereka harus memotret minimal tiga objek yang mereka observasi. Ada yang memotret taman bunga, gazebo, ruang guru dan kelas, suasana belajar, gedung-gedung, pohon-pohonan, mading, tempat parkir, tempat sampah, toilet dan lain-lain. Bahkan ada murid yang justru lebih tertarik memotret aktivitas teman-temannya, ada juga murid yang nekat mencari guru tertentu untuk diajak foto bersama. Setelah waktu yang disepakati, mereka saya ajak untuk berkumpul kembali dan menanyakan apakah mau terus berada diluar atau kita kembali ke kelas untuk membuat kalimat cause dan effectnya. Ternyata mereka lebih memilih untuk duduk-duduk santai didepan laboratorium sambil membuat kalimat sesuai dengan object yang telah mereka potret sebelumnya. 

Dalam membuat kalimat cause dan effect, ada murid yang sudah sangat lancar dan membantu teman-temannya yang kesulitan, ada juga yang masih kurang percaya diri apakah kalimatnya sudah benar atau masih harus diperbaiki dan meminta koreksi dari guru. Setelah kalimat-kalimat mereka selesai mereka kemudian mengedit gambar dengan menyisipkan kalimat cause and effect yang telah mereka buat. Disini saya melihat kemampuan murid-murid yang begitu terampil dalam melakukan proses editing foto dan mereka dengan senang hati saling memberikan masukan untuk mendapatkan hasil editing terbaik. Sepertinya untuk hal ini saya harus berguru sama mereka, hehehe. Hasilnya kemudian mereka unggah ke instagram masing-masing. Sesuai kesepakatan pula, mereka harus saling memberikan komentar terhadap postingan teman-teman mereka di Instagram. Mereka sangat antusias untuk membuat kalimat yang menarik karena postingan mereka tidak hanya akan dilihat oleh teman-teman kelasnya tetapi juga oleh pengikut lainnya di Instagram.

Melalui kegiatan belajar di lingkungan sekolah ini murid semakin mengenal lingkungan sekolah mereka, tidak hanya melihat apa yang nampak secara kasat mata saja namun mereka bisa memikirkan hubungan sebab akibat yang terjadi dari objek-objek yang mereka observasi di lingkungan sekolah. “Ide saya mengalir bu ketika melihat objek yang ingin saya deskripsikan secara langsung” kata salah seorang murid.  “Bu, ternyata di bagian sebelah sana ada objek yang sangat menarik dan saya tidak memperhatikannya sebelumnya” timpal yang lainnya. Sebahagian besar murid juga merasa senang karena mereka bisa mengunggah foto jepretan mereka ke Instagram dan juga antusias untuk saling memberikan komentar. Dari refleksi murid-murid itu saya belajar bahwa ternyata dengan sedikit mengubah suasana belajar maka murid-murid akan merasa antusias, apalagi ketika berusaha masuk ke dunia mereka dalam hal ini memanfaatkan sosial media mereka sebagai wadah untuk berbagi karya sederhana namun sarat makna. Untuk kedepan, saya berharap kegiatan observasi lingkungan ini bisa dikembangkan tidak hanya didalam lingkungan sekolah namun juga di lingkungan sekitar sekolah,lingkungan tempat tinggal mereka atau lingkungan yang lebih luas dan memungkinkan murid mengobservasi sesuatu yang lebih variatif. Saya juga ingin mengembangkan sebuah peta konsep agar dalam mengobservasi suatu objek  murid sudah punya gambaran nyata yang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan ke konsep-konsep lain pada kategori yang sama dan proses observasi menjadi lebih terarah. Saya melihat antusiasme murid untuk sesekali belajar dengan suasana yang berbeda sangat nampak dari wajah ceria mereka yang tidak menyadari waktu belajar telah berakhir dan bahwa mereka sudah harus kembali ke kelas untuk mata pelajaran berikutnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top