Dari Sekolah ke Kehidupan: Menumbuhkan Mindset Realistis-Progresif pada Generasi SMK
Menjadi guru SMK bukan sekadar mengajarkan keterampilan teknis. Lebih dari itu, saya melihat diri saya sebagai sosok yang mengemban amanah besar: mengubah cara berpikir generasi muda yang akan menjadi ujung tombak pembangunan bangsa. Di tengah dinamika global dan persaingan dunia kerja yang semakin kompleks, saya menyadari bahwa yang paling dibutuhkan oleh murid SMK bukan hanya kompetensi, melainkan mindset—cara berpikir yang realistis, progresif, dan penuh inisiatif. Seringkali saya menjumpai murid yang datang ke SMK dengan mentalitas pasrah. Mereka menganggap dirinya sebagai “sisa” dari jalur pendidikan lain, merasa tidak cukup mampu, dan hanya menunggu perintah. Mereka belajar keterampilan hanya untuk sekadar lulus, bukan sebagai bekal untuk menciptakan perubahan. Di titik inilah saya merasa bahwa tugas saya tidak hanya mengajarkan, tapi juga membangkitkan kesadaran dan menumbuhkan keberanian untuk bermimpi dengan cara yang nyata. Saya ingin membentuk lulusan SMK yang tidak terjebak pada sempitnya label ‘siap kerja’, tetapi lebih luas: siap hidup, siap beradaptasi, dan siap menciptakan sesuatu. Saya mulai dengan menyisipkan nilai-nilai perubahan dalam pembelajaran sehari-hari. Namun perubahan tidak bisa terjadi hanya dengan ceramah. Ia butuh pengalaman. Maka saya menciptakan berbagai proyek nyata yang relevan dengan kebutuhan sekitar dan potensi lokal. Salah satu proyek yang sangat membekas bagi saya dan murid adalah “Tempe Gude Inovatif”, bagian dari mata pelajaran Projek Kreatif dan Kewirausahaan kelas XII. Kami mencoba mengembangkan tepung tempe dari kacang gude (Cajanus cajan), bahan lokal yang sering diremehkan. Di sinilah murid belajar bahwa nilai ekonomi bisa lahir dari sumber daya sederhana, jika dikelola dengan kreativitas. Mereka mulai dari meneliti kandungan nutrisi kacang gude, membuat tempe dalam bentuk padat, mengeringkannya, lalu mengolahnya menjadi tepung serbaguna. Dari situ, mereka membuat produk lanjutan seperti mie tempe gude, nugget sehat, dan camilan ringan. Proyek ini tidak hanya melatih keterampilan wirausaha, tapi juga mengasah empati dan kepedulian terhadap lingkungan serta ketahanan pangan lokal. Murid diajak untuk melakukan survei pasar sederhana, mencoba memasarkan produk melalui media sosial, dan menyusun laporan keuangan usaha. Mereka mulai menyadari bahwa mereka bukan sekadar “anak SMK”, tetapi pelaku ekonomi yang bisa berkontribusi langsung pada masyarakat. Tidak hanya itu, pada kelas XI Agribisnis Perikanan Air Tawar, saya mengembangkan proyek "Kolam Mini Berbasis Bioflok", di mana murid membangun sistem budidaya ikan yang hemat lahan, ramah lingkungan, dan bisa dijalankan di halaman rumah. Proyek ini mempertemukan ilmu budidaya, teknologi air, dan manajemen usaha kecil. Murid belajar menghitung kebutuhan pakan, mengukur kualitas air, membuat rencana panen, dan bahkan mensimulasikan kerja sama dengan UMKM pakan ikan lokal. Melalui proyek-proyek ini, saya melihat perubahan yang nyata. Anak-anak yang dulunya malu berbicara, kini berani mempresentasikan ide di depan guru lain. Yang awalnya tidak percaya diri, kini mulai membuat akun bisnis kecil untuk menjual produknya. Sebagian bahkan mulai bercita-cita membuka usaha di desa asalnya. Ini membuktikan bahwa mindset realistis-progresif bisa ditumbuhkan jika murid diberi ruang untuk mencoba dan merasa dimampukan. Sebagai guru, saya juga terus belajar. Saya belajar bahwa perubahan tidak datang dari intervensi besar semata, tapi dari kehadiran kecil yang konsisten. Ketika kita hadir secara utuh di depan murid—mendengarkan mereka, memberi contoh nyata, dan memberi ruang untuk gagal—maka perubahan mulai berakar. Saya tidak ingin sekadar menjadi pengajar yang dinilai dari angka kelulusan, tetapi menjadi pendidik yang dinilai dari keberanian murid untuk bermimpi dan bertindak. Visi Everyone A Changemaker sangat relevan dengan semangat pendidikan kejuruan. Setiap anak punya potensi untuk menjadi agen perubahan. Tugas kita adalah membuka pintu, bukan menuntun terus. Memberi alat, bukan menyetir arah. Dengan begitu, lulusan SMK bukan lagi pelengkap tenaga kerja, tetapi pilar utama pembangunan. Saya percaya, masa depan Indonesia ada di tangan mereka—anak-anak SMK yang berpikir tajam, bertindak bijak, dan berani berubah.