Cumulative Layout Shift Optimization

Inovasi di Dunia Vokasi: Ketika Laboratorium Jadi Panggung Eksplorasi Siswa

DITULIS OLEH

Addy Osmani

Yuanita Ardyanti

SMKN 1 Badegan Ponorogo

Author
Published: June 4, 2025, 1:18 p.m.

Sebagai guru SMK Agribisnis Perikanan dan juga fasilitator Projek Kreatif dan Kewirausahaan, saya telah melalui banyak dinamika dalam dunia pendidikan vokasi. Satu hal yang menjadi tantangan terbesar dalam proses pembelajaran saya akhir-akhir ini adalah menumbuhkan kembali semangat belajar murid setelah masa pandemi dan kebiasaan belajar daring. Banyak murid saya tampak pasif, kurang percaya diri, dan hanya ingin menerima informasi tanpa menggali atau bertanya lebih dalam. Sebagai guru di bidang keahlian yang menuntut praktik lapangan dan kreativitas tinggi, hal ini tentu menjadi keprihatinan saya. Terlebih lagi, ketika saya melihat bagaimana potensi anak-anak ini sebenarnya sangat besar—mereka punya keterampilan, imajinasi, dan bahkan semangat kewirausahaan, hanya saja belum tergali dengan optimal karena terbiasa dengan sistem belajar yang serba instan dan seragam. Saya mulai bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya sudah benar-benar hadir sebagai guru yang memfasilitasi? Apakah saya terlalu terpaku pada capaian kurikulum dan lupa memberi ruang eksplorasi dan pembelajaran yang bermakna?” Pertanyaan-pertanyaan ini sempat membuat saya ragu akan pendekatan saya selama ini. Namun, saya tahu keraguan ini adalah awal dari refleksi yang jujur dan perlu. Rasa itu kemudian membawa saya pada satu kenangan yang sangat kuat. Beberapa waktu lalu, saya dan murid-murid kelas XII melaksanakan projek kewirausahaan dengan membuat produk berbasis pangan lokal, yakni tepung tempe gude. Kami tidak hanya fokus pada proses produksi, tetapi juga menyusun strategi pemasaran, melakukan analisis SWOT, bahkan membuat konten digital untuk promosi. Saat itulah saya kembali melihat kilau semangat dalam mata mereka. Mereka berdiskusi, mencoba, tertawa saat gagal, dan bersorak saat berhasil. Saya sadar bahwa ketika pembelajaran menyentuh kehidupan nyata dan memberi ruang bagi murid untuk merasa memiliki, maka mereka akan tumbuh dan berkembang secara alami. Momen itu menyadarkan saya bahwa kekuatan kami, sebagai sekolah vokasi, justru terletak pada pendekatan praktik dan pembelajaran berbasis proyek. Saya memiliki fasilitas laboratorium, kolam praktik, jaringan dengan mitra dunia usaha, serta tim guru yang terbuka untuk kolaborasi. Kekuatan lainnya adalah kedekatan saya dengan murid—karena saya tidak hanya mengajar, tapi juga membimbing mereka dalam praktik harian, yang membuat saya mengenal karakter dan potensi mereka secara lebih dalam. Kini, saya kembali mengevaluasi pendekatan saya dalam mengajar. Saya menyadari bahwa transformasi tidak bisa terjadi secara instan, namun bisa dimulai dengan aksi kecil yang konsisten. Saya mulai mengintegrasikan metode inkuiri, pembelajaran berbasis masalah, dan refleksi mingguan dalam praktik pembelajaran. Saya juga mengembangkan kegiatan pembelajaran diferensiasi—di mana murid dengan minat wirausaha diberi tantangan merancang produk, sementara murid yang tertarik pada teknis budidaya diperbolehkan mendalami teknik pembesaran ikan melalui pengamatan dan eksperimen langsung. Tantangan lainnya adalah menjaga motivasi murid dalam jangka panjang. Tidak semua murid langsung menunjukkan antusiasme. Beberapa dari mereka bahkan merasa tidak percaya diri untuk mencoba. Namun, saya belajar bahwa setiap langkah kecil, seperti memberi pujian saat mereka berhasil menyelesaikan tugas atau memberi ruang untuk menyampaikan ide, adalah bagian dari membangun budaya belajar yang sehat dan menyenangkan. Secara pribadi, tantangan ini juga mengubah saya sebagai guru. Saya menjadi lebih terbuka untuk mendengar suara murid, lebih fleksibel dalam metode pembelajaran, dan lebih siap untuk mengakui bahwa saya pun terus belajar. Saya mulai percaya bahwa guru bukan hanya pemberi materi, tetapi fasilitator perubahan dan penumbuh semangat belajar. Saya juga menyadari pentingnya komunitas. Komunitas guru di sekolah saya, rekan-rekan MGMP, dan jaringan guru penggerak memberi saya banyak inspirasi dan dukungan. Dalam forum diskusi, saya sering mendapatkan ide baru dan energi untuk mencoba hal-hal yang mungkin sebelumnya saya ragukan. Refleksi ini menjadi pijakan saya untuk terus bergerak. Saya tidak ingin murid-murid saya hanya lulus dengan nilai, tapi juga dengan pengalaman, keberanian, dan keyakinan bahwa mereka mampu menciptakan perubahan, baik di lingkungan kerja, masyarakat, maupun keluarga mereka. Dan saya, sebagai guru, ingin terus menjaga bara itu tetap menyala—dengan empati, kreativitas, dan ketulusan. Karena sejatinya, setiap tantangan dalam mengajar bukanlah penghalang, tetapi pintu menuju transformasi. Dan saya percaya, perubahan itu bisa dimulai dari satu ruang kelas kecil—asal ada niat dan langkah yang terus dijaga.

Praktik Baik Lainnya

Optimizing LCP

Dari Sekolah ke Kehidupan: Menumbuhkan Mindset Realistis-Progresif pada Generasi SMK

Menjadi guru SMK bukan sekadar mengajarkan keterampilan teknis. Lebih dari itu, saya melihat diri saya sebagai sosok yang mengemban amanah besar: mengubah cara berpikir generasi muda yang akan menjadi ujung tombak pembangunan bangsa. Di tengah dinamika global dan persaingan dunia kerja yang semakin kompleks, saya menyadari bahwa yang paling dibutuhkan oleh murid SMK bukan hanya kompetensi, melainkan mindset—cara berpikir yang realistis, progresif, dan penuh inisiatif. Seringkali saya menjumpai murid yang datang ke SMK dengan mentalitas pasrah. Mereka menganggap dirinya sebagai “sisa” dari jalur pendidikan lain, merasa tidak cukup mampu, dan hanya menunggu perintah. Mereka belajar keterampilan hanya untuk sekadar lulus, bukan sebagai bekal untuk menciptakan perubahan. Di titik inilah saya merasa bahwa tugas saya tidak hanya mengajarkan, tapi juga membangkitkan kesadaran dan menumbuhkan keberanian untuk bermimpi dengan cara yang nyata. Saya ingin membentuk lulusan SMK yang tidak terjebak pada sempitnya label ‘siap kerja’, tetapi lebih luas: siap hidup, siap beradaptasi, dan siap menciptakan sesuatu. Saya mulai dengan menyisipkan nilai-nilai perubahan dalam pembelajaran sehari-hari. Namun perubahan tidak bisa terjadi hanya dengan ceramah. Ia butuh pengalaman. Maka saya menciptakan berbagai proyek nyata yang relevan dengan kebutuhan sekitar dan potensi lokal. Salah satu proyek yang sangat membekas bagi saya dan murid adalah “Tempe Gude Inovatif”, bagian dari mata pelajaran Projek Kreatif dan Kewirausahaan kelas XII. Kami mencoba mengembangkan tepung tempe dari kacang gude (Cajanus cajan), bahan lokal yang sering diremehkan. Di sinilah murid belajar bahwa nilai ekonomi bisa lahir dari sumber daya sederhana, jika dikelola dengan kreativitas. Mereka mulai dari meneliti kandungan nutrisi kacang gude, membuat tempe dalam bentuk padat, mengeringkannya, lalu mengolahnya menjadi tepung serbaguna. Dari situ, mereka membuat produk lanjutan seperti mie tempe gude, nugget sehat, dan camilan ringan. Proyek ini tidak hanya melatih keterampilan wirausaha, tapi juga mengasah empati dan kepedulian terhadap lingkungan serta ketahanan pangan lokal. Murid diajak untuk melakukan survei pasar sederhana, mencoba memasarkan produk melalui media sosial, dan menyusun laporan keuangan usaha. Mereka mulai menyadari bahwa mereka bukan sekadar “anak SMK”, tetapi pelaku ekonomi yang bisa berkontribusi langsung pada masyarakat. Tidak hanya itu, pada kelas XI Agribisnis Perikanan Air Tawar, saya mengembangkan proyek "Kolam Mini Berbasis Bioflok", di mana murid membangun sistem budidaya ikan yang hemat lahan, ramah lingkungan, dan bisa dijalankan di halaman rumah. Proyek ini mempertemukan ilmu budidaya, teknologi air, dan manajemen usaha kecil. Murid belajar menghitung kebutuhan pakan, mengukur kualitas air, membuat rencana panen, dan bahkan mensimulasikan kerja sama dengan UMKM pakan ikan lokal. Melalui proyek-proyek ini, saya melihat perubahan yang nyata. Anak-anak yang dulunya malu berbicara, kini berani mempresentasikan ide di depan guru lain. Yang awalnya tidak percaya diri, kini mulai membuat akun bisnis kecil untuk menjual produknya. Sebagian bahkan mulai bercita-cita membuka usaha di desa asalnya. Ini membuktikan bahwa mindset realistis-progresif bisa ditumbuhkan jika murid diberi ruang untuk mencoba dan merasa dimampukan. Sebagai guru, saya juga terus belajar. Saya belajar bahwa perubahan tidak datang dari intervensi besar semata, tapi dari kehadiran kecil yang konsisten. Ketika kita hadir secara utuh di depan murid—mendengarkan mereka, memberi contoh nyata, dan memberi ruang untuk gagal—maka perubahan mulai berakar. Saya tidak ingin sekadar menjadi pengajar yang dinilai dari angka kelulusan, tetapi menjadi pendidik yang dinilai dari keberanian murid untuk bermimpi dan bertindak. Visi Everyone A Changemaker sangat relevan dengan semangat pendidikan kejuruan. Setiap anak punya potensi untuk menjadi agen perubahan. Tugas kita adalah membuka pintu, bukan menuntun terus. Memberi alat, bukan menyetir arah. Dengan begitu, lulusan SMK bukan lagi pelengkap tenaga kerja, tetapi pilar utama pembangunan. Saya percaya, masa depan Indonesia ada di tangan mereka—anak-anak SMK yang berpikir tajam, bertindak bijak, dan berani berubah.

By Yuanita Ardyanti on 4 Jun, 2025

Misi yang dikerjakan

Menemukan Tantangan dan Kekuatan dalam Mengajar

Pak Andi duduk termenung di mejanya setelah jam pelajaran berakhir. Hari ini, kelas terasa lebih sulit dari biasanya. Beberapa murid tampak tidak fokus, ada yang sibuk berbicara sendiri, dan beberapa bahkan terang-terangan menunjukkan wajah bosan. Ia sudah mencoba berbagai cara untuk menarik perhatian mereka, tapi tetap saja ada yang kurang.

Sebagai seorang guru, Pak Andi merasa tantangan terbesar yang ia hadapi adalah bagaimana membuat pembelajaran lebih bermakna dan menarik bagi semua murid. Ia ingin mereka merasa senang belajar, tapi di sisi lain, ia juga harus memastikan bahwa mereka benar-benar memahami dan mampu mengaplikasikan apa yang dipelajari.

Saat menyadari hal ini, ada rasa kecewa yang muncul. Apakah aku sudah cukup baik sebagai guru? Apakah aku terlalu kaku dalam mengajar? Atau mungkin, aku belum cukup memahami kebutuhan murid-muridku? Ia khawatir jika tidak menemukan cara yang tepat, murid-muridnya akan semakin kehilangan motivasi untuk belajar.

Namun, saat ia kembali mengingat pengalamannya beberapa waktu lalu, ia teringat sebuah momen kecil yang pernah membuatnya tersenyum. Saat itu, ia mencoba metode belajar yang lebih interaktif—bukan hanya ceramah di depan kelas, tapi memfasilitasi murid mengeksplorasi materi dengan cara mereka sendiri melalui sebuah proyek. Hasilnya? Pembelajaran terasa lebih hidup, dan murid-murid lebih bersemangat!

Pak Andi mulai bertanya pada dirinya sendiri, "Dulu aku bisa menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Apa yang membuatnya berhasil? Apa yang bisa aku lakukan lagi sekarang agar kelas kembali hidup?"

Instruksi:

👉 Bagaimana dengan Anda? Permasalahan apa yang paling mendesak atau menantang yang Anda hadapi saat ini (bisa terkait pembelajaran, kesehatan, lingkungan, well being, atau yang lain)? Ketika Anda menyadari permasalahan tersebut, apa yang Anda rasakan? Bagaimana permasalahan ini memengaruhi Anda secara pribadi, murid, atau komunitas sekolah? Coba ingat kembali, apakah ada momen atau periode di mana Anda atau sekolah Anda pernah berhasil mengatasi tantangan serupa atau mencapai keberhasilan dalam bidang yang terkait? Apa saja kekuatan atau sumber daya yang Anda miliki saat itu? Ceritakan dalam kolom teks di bawah ini dan unggah sungai kehidupan Anda!